“Beranilah menulis pendapat atau pandangan sendiri, tentunya berdasarkan padangan dari para ahli. Dengan demikian akan ada hal baru dalam buku yang ditulis anda tulis. Ini menjadi nilai lebih dari buku-buku sebelumnya,” katanya.
Jangan Takut Menulis
Lebih lanjut Rusman mengatakan, menulis buku ajar atau referensi, tidak cukup dengan modal sumber dari buku. Karena, dalam satu buku, pasti ada kekurangnnya.
Isinya juga kadang sudah tidak relevan dengan kondisi kekinian. Sementara kita menulis buku ingin menyampaikan sesuatu yang baru yang mungkin belum ditemukan dalam buku yang sudah terbit.
Oleh karena itu, kita perlu melakukan observasi dan penelitian langsung kelapangan. Misalnya melakukan wawancara (bertanya) kepada para ahli atau praktisi, Tujuannya, untuk mendapatkan hal-hal baru dari bidang yang akan kita tulis.
Selain itu, selalu up date perkembangan bidang ilmu yang kita tulis. Melalui media, khususnya media online. Dengan demikian, buku yang kita tulis akan berbeda dengan buku-buku yang sudah terbit.
Rusman Latief, menyarankan kepada calon penulis, khususnya para dosen yakni menulis buku jangan takut kepakaran seseorang yang sudah menulis buku. Buku yang ditulis seorang guru besar atau seorang doktor.
“Yakinlah apa yang anda akan tulis memiliki nilai yang sama yang ditulis oleh guru besar atau para doktor. Percayalah guru besar dan para doktor, manusia sama dengan anda. Memiliki keterbatas pemikiran. Tidak mengetahui secara sesusi. Mungkin yang lupa dari perhatian mereka itulah yang anda tulis untuk melengkapinya,” katanya.
Untuk menembus penerbit mayor agar buku anda dapat diterbitkan dan dipasarkan saecara nasional, tambah Rusman, pastikan, buku yang anda tulis, ada pasarnya atau pembacanya.
'Misalnya, buku ajar tentang teori jurnalistik. Pasar buku ini, sudah ada pasar atau pembacanya mahasiswa ilmu komuniksi media massa.
“Jika tidak memastikan ada konsumennnya, penerbit tidak berani mengeluarkan biaya produksi tanpa mengetahui konsumen buku tersebut. Penerbit adalah industri bisnis yang mencari keuntngan ekonomi. Jadi tidak hanya memperhatikan unsur idealisme sebuah buku tetapi juga unsur bisnisnya,” ucap Rusman. (*/rilis)
