Bincang Santai Teras LPPM ATVI, Keterampilanm Menulis Bukan Bakat Lahir, Tapi Bisa Dipelajari 

Sabtu 01 Jan 2022, 10:59 WIB
Rusman Latief pembicara  Bincang Santai Teras LPPM ATVI di channel Youtube, dipandu, Sisca T. Guring, dosen ATVI.

Rusman Latief pembicara  Bincang Santai Teras LPPM ATVI di channel Youtube, dipandu, Sisca T. Guring, dosen ATVI.

“Beranilah menulis pendapat atau pandangan sendiri, tentunya berdasarkan padangan dari para ahli. Dengan demikian akan ada hal baru dalam buku yang ditulis anda tulis. Ini menjadi nilai lebih dari buku-buku sebelumnya,” katanya.

Jangan Takut Menulis

Lebih lanjut Rusman mengatakan, menulis buku ajar atau referensi, tidak cukup dengan modal sumber dari buku. Karena, dalam satu buku, pasti ada kekurangnnya.

Isinya juga kadang sudah tidak relevan dengan kondisi kekinian.  Sementara kita menulis buku ingin menyampaikan sesuatu yang baru  yang mungkin  belum ditemukan  dalam buku yang sudah terbit. 

Oleh karena itu, kita perlu melakukan observasi dan penelitian langsung kelapangan. Misalnya melakukan wawancara (bertanya) kepada para ahli atau praktisi, Tujuannya, untuk mendapatkan hal-hal  baru dari bidang yang akan kita tulis.

Selain itu, selalu up date  perkembangan bidang ilmu yang kita tulis. Melalui media, khususnya media online. Dengan demikian, buku  yang kita  tulis akan   berbeda dengan buku-buku yang sudah terbit. 

Rusman Latief, menyarankan kepada calon penulis, khususnya para dosen yakni menulis buku jangan takut  kepakaran seseorang yang sudah menulis buku.  Buku yang ditulis seorang guru besar atau  seorang doktor.

“Yakinlah apa yang anda akan tulis  memiliki nilai yang sama yang ditulis oleh guru besar atau para doktor.  Percayalah guru besar dan para doktor, manusia sama dengan anda. Memiliki keterbatas pemikiran. Tidak mengetahui secara sesusi. Mungkin yang lupa dari perhatian mereka itulah yang anda tulis untuk melengkapinya,” katanya.

Untuk menembus penerbit mayor agar buku anda dapat diterbitkan dan dipasarkan saecara nasional, tambah Rusman,  pastikan, buku yang anda tulis, ada pasarnya atau pembacanya.

'Misalnya, buku ajar tentang teori jurnalistik. Pasar buku ini,  sudah ada pasar atau pembacanya mahasiswa  ilmu komuniksi media massa.

“Jika tidak memastikan  ada konsumennnya,  penerbit tidak berani mengeluarkan biaya produksi tanpa mengetahui  konsumen buku tersebut. Penerbit adalah industri bisnis yang mencari keuntngan ekonomi. Jadi tidak hanya memperhatikan unsur idealisme sebuah buku tetapi juga unsur bisnisnya,” ucap Rusman. (*/rilis)


Berita Terkait


News Update