Pola Asuh hingga Ekonomi Masih Bayangi Stunting, Dinkes Tangerang Pastikan Angka Tetap di 5,1 Persen

Jumat 30 Okt 2026, 18:42 WIB
Kantor Dinkes Kota Tangerang, Jumat, 30 Oktober 2026. (Sumber: Poskota/Rizki Gojali)
Kantor Dinkes Kota Tangerang, Jumat, 30 Oktober 2026. (Sumber: Poskota/Rizki Gojali)

TANGERANG, POSKOTA.CO.ID – Angka prevalensi stunting pada balita di Kota Tangerang mencatatkan tren positif. Hingga September 2026, prevalensi stunting di wilayah tersebut berhasil ditekan hingga mencapai 5,1 persen angka yang jauh lebih baik dibandingkan target yang ditetapkan Pemerintah Kota Tangerang sebesar 11 persen.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, drg. Sari Nur Arofah, mengonfirmasi bahwa penurunan ini berdasarkan akumulasi data survei nasional serta pemantauan internal melalui sistem surveilans gizi.

"Pada bulan September, prevalensi balita stunting menunjukkan angka 5,1 persen dari target Kota Tangerang sebesar 11 persen," ujar Sari saat dikonfirmasi Poskota, Jumat, 30 Oktober 2026.

Faktor Penyebab Stunting di Kota Tangerang

Meskipun angka keberhasilan terbilang signifikan, Sari tidak menampik bahwa kasus stunting masih ditemukan di lapangan.

Baca Juga: Tekan Stunting dan Songsong Indonesia Emas, DPPKB Purwakarta Luncurkan Program SILIKON Bangga Kencana

Menurut analisis Dinkes, ada tiga faktor utama yang memicu munculnya gangguan pertumbuhan pada anak di Kota Tangerang, antara lain:

  • Pola asuh yang kurang tepat dari orang tua atau pengasuh.
  • Penyakit penyerta yang diidap oleh balita.
  • Kondisi ekonomi keluarga yang membatasi akses nutrisi ideal.

"Secara umum, masalah gizi pada balita yang ditemukan disebabkan karena pola asuh yang kurang tepat, adanya penyakit penyerta, dan ekonomi," ungkapnya.

Baca Juga: Tangsel Genjot Intervensi Stunting Sejak Dini Lewat Program SIGAP Anak Sehat

Strategi Pencegahan dari Remaja hingga Balita

Guna menekan angka kasus secara berkelanjutan, Dinkes Kota Tangerang mengintervensi masalah gizi sejak dini. Langkah preventif ini dilakukan lintas siklus hidup, mulai dari fase remaja putri, calon pengantin, hingga masa kehamilan.

Beberapa program unggulan yang dijalankan meliputi:

  • Kampanye gizi seimbang dan pencegahan anemia melalui program Aksi Bergizi.
  • Pemeriksaan kesehatan wajib sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
  • Pemeriksaan rutin dan pengawasan oleh kader Srikandi.
  • Monitoring tumbuh kembang anak berbasis aplikasi SIDATA.

Selain itu, Pemkot Tangerang terus mendorong pemberian ASI eksklusif, edukasi MPASI yang memadai, kelengkapan imunisasi dasar, penyaluran rutin vitamin A, hingga pemberian obat cacing.

Baca Juga: Dinkes Kabupaten Tangerang Fokus Tangani Stunting di 10 Desa

"Kami juga memberikan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita yang mengalami kendala kenaikan berat badan, berbobot kurang, maupun yang terindikasi gizi kurang," tambah Sari.

Bagi balita yang sudah terdiagnosis mengalami stunting, penanganan medis terpadu disiapkan agar anak bisa mendapatkan intervensi gizi klinis secara cepat.

Dinkes Kota Tangerang mencatat telah menggandeng puluhan fasilitas kesehatan tingkat lanjut untuk menangani rujukan khusus ini.

"Untuk tatalaksana intervensi balita stunting, kami telah bekerja sama dengan 34 rumah sakit di wilayah Kota Tangerang untuk pelayanan rujukan," pungkasnya. (M1). 


Berita Terkait


News Update