Dari sisi perdagangan luar negeri, BI mencatat peningkatan kinerja ekspor nonmigas. Perkembangan ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor.
Meski begitu, peningkatan ekspor tidak cukup hanya mengandalkan pergerakan harga komoditas. Penguatan permintaan, kapasitas produksi, dan daya saing produk Indonesia juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Destry menilai prospek ekonomi nasional ke depan masih didukung oleh sejumlah faktor, termasuk kebijakan pemerintah dan membaiknya ekspektasi pelaku ekonomi.
“Ke depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprakirakan tetap baik, ditopang oleh berlanjutnya berbagai stimulus Pemerintah, membaiknya ekspektasi pelaku ekonomi, serta penguatan berbagai sumber pertumbuhan ekonomi,” terang Destry.
Baca Juga: Jadwal Persib Bandung vs Melbourne Victory: Kapan, Jam Berapa, Tayang di TV Apa?
Tiga Faktor yang Mendukung Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026
Berdasarkan penjelasan BI, ada tiga faktor utama yang menopang proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional.
Konsumsi rumah tangga. Belanja masyarakat yang terjaga membantu mempertahankan aktivitas perdagangan dan sektor usaha lainnya.
Investasi. Investasi pemerintah dan kontribusi swasta yang mulai menguat mendukung kegiatan produksi serta pengembangan usaha.
Ekspor nonmigas. Peningkatan ekspor membuka peluang bagi Indonesia untuk memperoleh manfaat dari perkembangan perdagangan global dan harga komoditas.
Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dalam menjaga aktivitas ekonomi. Namun, realisasi pertumbuhan tetap bergantung pada perkembangan kondisi domestik dan global sepanjang tahun.
Dengan proyeksi 4,9–5,7 persen, BI melihat perekonomian Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh pada 2026. Penguatan konsumsi, investasi, dan ekspor akan menjadi bagian penting dalam menjaga momentum tersebut, sementara perkembangan ekonomi global tetap perlu dicermati.
