POSKOTA.CO.ID - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9–5,7 persen. Prospek ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga, investasi yang tumbuh positif, serta peningkatan ekspor nonmigas.
Meski menghadapi tantangan ekonomi global, BI menilai perekonomian nasional masih memiliki sejumlah sumber pertumbuhan yang bisa diperkuat. Konsumsi masyarakat, aktivitas dunia usaha, dan dukungan kebijakan pemerintah menjadi faktor yang diperhatikan dalam proyeksi tersebut.
Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan hal itu dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berdaya tahan dan perlu terus didorong melalui penguatan berbagai sumber pertumbuhan ekonomi,” kata Destry.
Baca Juga: Gandeng Kemensos, Telkom Gelar Connect in-Spirasi di Sekolah Rakyat Kulon Progo
Konsumsi Rumah Tangga Masih Menjadi Penopang Ekonomi
Konsumsi rumah tangga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut Destry, belanja masyarakat masih terjaga, didukung keberlanjutan berbagai stimulus fiskal pemerintah dan meningkatnya ekspektasi konsumen.
Kondisi ini penting karena konsumsi masyarakat berpengaruh terhadap aktivitas berbagai sektor usaha, mulai dari perdagangan hingga industri barang konsumsi. Ketika belanja rumah tangga bertahan, pelaku usaha memiliki peluang untuk menjaga produksi dan penjualan.
Namun, perkembangan konsumsi tetap perlu dicermati seiring perubahan harga barang, daya beli, dan kondisi ekonomi masyarakat.
Investasi Swasta dan PMI Manufaktur Menguat
Selain konsumsi, investasi turut menjadi perhatian BI dalam melihat prospek ekonomi 2026. Investasi pemerintah masih memberikan dukungan, sementara kontribusi sektor swasta mulai menunjukkan penguatan.
Salah satu indikator yang dicermati adalah Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur. Indeks tersebut berada di zona ekspansi, yang menunjukkan aktivitas industri manufaktur mengalami pertumbuhan dibandingkan periode sebelumnya.
PMI manufaktur menjadi salah satu petunjuk untuk melihat kondisi produksi, pesanan, dan aktivitas bisnis di sektor industri. Meski demikian, indikator ini perlu dibaca bersama data ekonomi lainnya agar memberikan gambaran yang lebih utuh.
Ekspor Nonmigas Perlu Terus Diperkuat
Dari sisi perdagangan luar negeri, BI mencatat peningkatan kinerja ekspor nonmigas. Perkembangan ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan momentum kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor.
Meski begitu, peningkatan ekspor tidak cukup hanya mengandalkan pergerakan harga komoditas. Penguatan permintaan, kapasitas produksi, dan daya saing produk Indonesia juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Destry menilai prospek ekonomi nasional ke depan masih didukung oleh sejumlah faktor, termasuk kebijakan pemerintah dan membaiknya ekspektasi pelaku ekonomi.
“Ke depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprakirakan tetap baik, ditopang oleh berlanjutnya berbagai stimulus Pemerintah, membaiknya ekspektasi pelaku ekonomi, serta penguatan berbagai sumber pertumbuhan ekonomi,” terang Destry.
Baca Juga: Jadwal Persib Bandung vs Melbourne Victory: Kapan, Jam Berapa, Tayang di TV Apa?
Tiga Faktor yang Mendukung Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026
Berdasarkan penjelasan BI, ada tiga faktor utama yang menopang proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional.
Konsumsi rumah tangga. Belanja masyarakat yang terjaga membantu mempertahankan aktivitas perdagangan dan sektor usaha lainnya.
Investasi. Investasi pemerintah dan kontribusi swasta yang mulai menguat mendukung kegiatan produksi serta pengembangan usaha.
Ekspor nonmigas. Peningkatan ekspor membuka peluang bagi Indonesia untuk memperoleh manfaat dari perkembangan perdagangan global dan harga komoditas.
Ketiga faktor tersebut saling berkaitan dalam menjaga aktivitas ekonomi. Namun, realisasi pertumbuhan tetap bergantung pada perkembangan kondisi domestik dan global sepanjang tahun.
Dengan proyeksi 4,9–5,7 persen, BI melihat perekonomian Indonesia masih memiliki ruang untuk tumbuh pada 2026. Penguatan konsumsi, investasi, dan ekspor akan menjadi bagian penting dalam menjaga momentum tersebut, sementara perkembangan ekonomi global tetap perlu dicermati.
