Simbang Kulon Night Carnival Pekalongan Acara Apa? Viral Disebut Tampilkan Ritual Satanic

Senin 14 Sep 2026, 15:11 WIB
Visual sejumlah peserta Simbang Kulon Night Carnival 2026 menjadi sorotan di media sosial hingga muncul anggapan mengenai adanya unsur ritual satanic dalam pertunjukan. (Sumber: X/@ferizandra)
Visual sejumlah peserta Simbang Kulon Night Carnival 2026 menjadi sorotan di media sosial hingga muncul anggapan mengenai adanya unsur ritual satanic dalam pertunjukan. (Sumber: X/@ferizandra)

POSKOTA.CO.ID - Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, tengah viral dianggap menyerupai karakter dalam ritual satanic atau pemujaan setan.

Dalam video yang beredar, tampak sejumlah peserta menggunakan kostum dan riasan dengan karakter yang tidak biasa pada acara karnaval, Kamis, 10 September 2026 itu.

Beberapa orang terlihat mengenakan pakaian berwarna putih dengan wajah yang dirias menyerupai tengkorak.

Peserta lainnya tampak menggunakan kostum hitam dengan riasan wajah bernuansa menyeramkan.

Tampilan tersebut kemudian menjadi bahan pembicaraan warganet hingga muncul anggapan bahwa kegiatan tersebut menampilkan ritual pemujaan setan.

Penampil lainnya tampak mengenakan pakaian berwarna hitam dengan riasan wajah yang memberikan kesan menyeramkan.

Visual tersebut kemudian memunculkan berbagai persepsi di tengah masyarakat.

Sebagian warganet mengaitkan tampilan tersebut dengan ritual pemujaan setan atau satanic.

Lantas, Simbang Kulon Night Carnival Pekalongan sebenarnya acara apa? Berikut informasi selengkapnya.

Baca Juga: Penyebab Sinyorita Esperanza Keguguran Apa? Ini Penjelasan soal Kehamilan Baby Bala Bala

Simbang Kulon Night Carnival Pekalongan Acara Apa?

Simbang Kulon Night Carnival diketahui merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan masyarakat Kelurahan Simbang Kulon.

Pada pelaksanaan tahun 2026, kegiatan tersebut disebut berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Selain menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Maulid Nabi, SKNC juga merupakan bagian dari acara khitanan massal ke-61 yang diselenggarakan oleh Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Simbang Kulon.

Meski demikian, konteks dan tujuan penyelenggaraan kegiatan perlu dilihat secara utuh.

Berdasarkan sumber resmi Pemerintah Kabupaten Pekalongan, SKNC dijelaskan sebagai kegiatan masyarakat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan mengusung semangat budaya, kreativitas, dan persaudaraan.

Plt. Bupati Pekalongan H. Sukirman turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan itu, ia mengajak masyarakat untuk menjaga kerukunan serta menjadikan kegiatan sebagai ruang untuk menampilkan kreativitas.

“Yang penting adalah semuanya rukun, semuanya bergembira. Malam hari ini kita akan melihat kreativitas saudara-saudara kita, anak-anak kita, sahabat-sahabat kita dalam berbagai kreasi yang ingin ditampilkan,” ujar Sukirman.

Disisi lain, muncul pula tanggapan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Wakil Ketua Umum MUI KH M Cholil Nafis, menilai sejumlah atraksi yang ditampilkan dalam karnaval tidak sejalan dengan esensi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Menurut Kiai Cholil, pertunjukan yang menampilkan simbol-simbol satanic hingga aksi penyembelihan hewan secara sadis di muka umum dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan akhlak mulia yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Duduk Perkara Utang Negara ke Ahil Waris Tariffin Riau Belum Dibayar Sejak 1960, Kemenkeu Disebut Tak Jalankan Putusan MA

Kiai Cholil menegaskan, peringatan Maulid Nabi semestinya menjadi momentum untuk meneladani ajaran dan akhlak Rasulullah.

Kegembiraan dalam memperingati Maulid, kata dia, dapat diwujudkan melalui kegiatan yang memberikan nilai edukasi, menciptakan kedamaian, serta memperkuat keimanan masyarakat.

"Ini jelas berlawanan dengan semangat memperingati atau merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kita bergembira dengan Maulid Nabi itu dengan mengikuti sunnah beliau, seperti halnya membaca shalawat dan membaca Alquran,” ujar Kiai Cholil dalam postingan medsosnya, pada Senin, 14 September 2026.

Lebih lanjut, Kiai Cholil membedakan antara karnaval sebagai bentuk kreativitas masyarakat dengan pertunjukan yang menurutnya mengandung unsur menakutkan atau simbol tertentu yang tidak sejalan dengan nilai keagamaan.

“Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi,” terangnya.


Berita Terkait


News Update