Erupsi Gunung Anak Krakatau Ganggu Penerbangan Soetta, Data Satelit Ungkap Puncak Aktivitasnya

Rabu 09 Sep 2026, 11:10 WIB
Tampilan citra Teknologi Penginderaan Jarak Jauh memperlihatkan perubahan-perubahan yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau. (Sumber: BIG)
Tampilan citra Teknologi Penginderaan Jarak Jauh memperlihatkan perubahan-perubahan yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau. (Sumber: BIG)

POSKOTA.CO.ID Aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menjadi sorotan usai mengalami erupsi kuat pada Sabtu, 5 September 2026. Tak hanya dipantau dari pos pengamatan darat, dinamika puncaknya eskalasi vulkanik ini terekam jelas dari angkasa melalui teknologi penginderaan jauh satelit Sentinel-2 yang diolah platform Piksel.

Erupsi tersebut tidak hanya berdampak pada kawasan Selat Sunda. Sehari pascapuncak erupsi, tepatnya Minggu, 6 September 2026 sebaran abu vulkanik meluas hingga mengganggu operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta).

Direktur Pemetaan Tematik Badan Informasi Geospasial (BIG), Gatot Haryo Pramono, menjelaskan bahwa pemanfaatan citra satelit memberikan perspektif spasial yang melengkapi data pengamatan darat.

"Penginderaan jauh memungkinkan kita melihat perubahan suatu wilayah dari waktu ke waktu. Melalui perbandingan citra, perkembangan suatu fenomena dapat terdokumentasikan secara visual dan memberikan informasi spasial yang melengkapi hasil pengamatan di lapangan," ujar Gatot kepada Pos Kota, Rabu, 9 September 2026.

Baca Juga: Waspada! Gunung Anak Krakatau Alami 7 Kali Letusan dalam Sepekan Ini

Eskalasi Aktivitas dari Agustus hingga September

Berdasarkan rekaman enam citra satelit Sentinel-2 sepanjang Agustus hingga September 2026, terlihat kronologi visual perubahan kondisi Anak Krakatau secara bertahap:

  • 8 Agustus 2026: Gunung berada dalam kondisi relatif tenang tanpa adanya semburan material yang menonjol.
  • 16 Agustus 2026: Mulai terdeteksi semburan material yang keluar dari tubuh gunung dan memanjang ke perairan sekitar.
  • 21 dan 26 Agustus 2026: Semburan vulkanik konsisten terlihat dan aktivitas relatif stabil di tingkat sedang.
  • 3 September 2026: Emisi semburan tampak semakin jelas dan membesar.
  • 5 September 2026 : Citra menunjukkan aktivitas paling kuat. Visualisasi platform Piksel merekam warna oranye pekat yang menandakan sebaran abu dan material vulkanik masif menyebar mengikuti arah angin atmosfer.

Gatot menambahkan, abu vulkanik yang mencapai ruang udara Soetta membuktikan bahwa dampak erupsi gunung api bisa menjangkau wilayah yang sangat jauh dari pusat sumbernya.

Meskipun citra satelit memberikan gambaran visual yang detail, BIG menegaskan bahwa data penginderaan jauh sifatnya memperkaya analisis, bukan menggantikan peran lembaga teknis yang berwenang.

"Data satelit menjadi informasi pendukung yang memperkaya pemahaman kita. Dengan mengintegrasikan data geospasial dan informasi kebencanaan lainnya, kita memperoleh gambaran yang utuh untuk memperkuat mitigasi bencana dan melindungi infrastruktur strategis nasional," pungkas Gatot.


Berita Terkait


News Update