Menanggapi video viral yang meresahkan publik, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang belum diketahui kebenarannya.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto menyatakan bahwa gempa tidak dapat diprediksi secara tepat kapan dan di mana akan terjadi.
Wijayanto pun meminta masyarakat untuk tidak langsung panik menyikapi video yang beredar karena informasi mengenai isu tersebut belum terverifikasi.
Baca Juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi Lagi Siang Ini 8 September 2026, Cek Update Terbarunya
"Indonesia adalah daerah rawan gempa, gempa dapat terjadi kapan saja, gempa belum dapat diprediksi kapan dan di mana akan terjadi secara tepat. Masyarakat Indonesia diimbau agar tetap tenang dan waspada serta tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, khususnya yang beredar melalui media sosial," kata Wijayanto dalam keterangannya.
Menurut Wijayanto, Indonesia memang berada di daerah rawan bencana, tak terkecuali gempa. BMKG bahkan telah beberapa kali menyampaikan terkait potensi megathrust dan sesar aktif yang mungkin terjadi.
Meski begitu, mengenai kapan bencana tersebut terjadi, masih tidak bisa dipastikan. Bahkan, belum ada teknologi yang dapat memprediksinya.
"Wilayah Indonesia terletak di daerah yang rawan gempa. sudah berkali-kali juga kita sosialisasikan, ada ancaman dari sumber megathrust dan sesar aktif. Namun kapan dan di mana secara pasti tidak bisa dipastikan. Belum ada teknologi yang memprediksi gempa secara tepat waktu dan lokasinya," jelasnya.
Lebih lanjut, Wijayanto menuturkan, apabila ada ramalan yang betul-betul terjadi secara tepat sesuai dengan peristiwa, maka hal tersebut hanyalah kebetulan.
"Ramalan itu kebetulan saja. Secara rata-rata di Indonesia terjadi 2 kali gempa per tahun dengan magnitudo M >7,0, bahkan di 2026 sampai Agustus ini sudah ada 2x gempa M>7,0 (Flores, Malut)," ungkapnya.
