Ia menilai kondisi organisasi perlu menjadi perhatian serius. Menurutnya, muncul berbagai persoalan yang membuat sebagian ulama dan warga Nahdliyin merasa prihatin menjelang muktamar.
“Ada tiga L dari PBNU hari ini: luntur keulamaannya, luntur tradisi tabayun, luntur ri'ayatul ummah. PBNU hari ini lemah manajerialnya dan tidak membuat maslahat,” katanya.
Kiai Anis juga menyoroti kaderisasi yang dinilainya perlu dikembalikan pada tujuan awal untuk memperkuat kapasitas kader dan kemaslahatan umat, bukan sekadar kepentingan kekuasaan.
“Di bawah ada paradoks. Kaderisasi sekarang untuk menguatkan kekuasaan, atau jabatan di birokrasi. Karena itu tugas bersama menitipkan aspirasi kepada muktamirin untuk memberi maslahat bagi Nahdliyin,” ujarnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Algebra Bogor KH Khariri Makmun menekankan pentingnya NU kembali memperkuat peran sosialnya di tengah masyarakat. Ia mengingatkan bahwa ulama dan organisasi keagamaan memiliki tanggung jawab menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah.
“NU bersama masyarakat, terutama di hari-hari sulit sekarang ini. Teman-teman di bawah berharap NU fokus melihat kondisi di masyarakat, kemudian didialogkan pada pemerintah,” kata Kiai Khariri.
Ia juga menyampaikan sejumlah kritik terkait tata kelola organisasi selama periode kepemimpinan PBNU saat ini. Berbagai persoalan tersebut, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi dalam muktamar.
Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Quran KH Mustain Syafi'i turut mengingatkan bahwa kekuatan NU sejatinya berada pada tradisi dan amaliyah warga Nahdliyin di akar rumput.
“Tidak ada NU sekalipun, amaliyah NU tetap terlaksana secara otomatis,” ujar Kiai Mustain.
Ia mengajak warga Nahdliyin melakukan introspeksi dan memperkuat gerakan keumatan. Kritik terhadap organisasi, menurutnya, harus diarahkan untuk mengembalikan NU pada peran utamanya dalam melayani dan meningkatkan kesejahteraan umat.
Halaqah tersebut ditutup dengan seruan agar Muktamar NU ke-35 menjadi momentum evaluasi sekaligus perbaikan tata kelola organisasi. Para peserta berharap forum muktamar mampu menghasilkan kepemimpinan dan program yang lebih berorientasi pada kemaslahatan warga Nahdliyin.
