Pertama, lihat jumlah harinya. HTH 7 hari tentu berbeda dengan HTH 45 hari. Keduanya berada dalam kategori yang berbeda dan menunjukkan kondisi kekeringan yang tidak sama.
Kedua, perhatikan lokasi pengamatan. Data HTH berasal dari titik pengamatan tertentu. Kondisi satu kecamatan belum tentu menggambarkan seluruh wilayah kabupaten, apalagi satu provinsi.
Ketiga, lihat tanggal pembaruan. Informasi HTH dapat berubah setelah terjadi hujan. Karena itu, tanggal pemutakhiran menjadi bagian penting dari informasi tersebut.
Keempat, jangan menyamakan HTH dengan semua bentuk kekeringan. Kekeringan memiliki beberapa aspek. Kekeringan meteorologis berkaitan dengan kondisi curah hujan, sementara dampaknya terhadap pertanian, sumber air, dan kehidupan masyarakat dapat berkembang dengan pola yang berbeda.
BMKG sendiri secara berkala memperbarui pemantauan HTH. Pada Juli 2026, misalnya, BMKG melaporkan adanya sejumlah titik pengamatan di Indonesia yang masuk kategori HTH panjang hingga ekstrem panjang, menunjukkan bagaimana data tersebut digunakan untuk memantau perkembangan musim kemarau.
Contoh Sederhana Menghitung HTH
Supaya lebih mudah dibayangkan, misalnya sebuah pos hujan mencatat data berikut:
Hari pertama: 0 mm
Hari kedua: 0 mm
Hari ketiga: 0,5 mm
Hari keempat: 0 mm
Hari kelima: 0 mm
Hari keenam: 2 mm
