BPS menjelaskan, berbagai karakteristik tersebut dipertimbangkan secara bersama-sama melalui metode statistik Proxy Means Test (PMT). Karena itu, satu indikator tidak otomatis menentukan posisi desil seseorang.
Baca Juga: 25 Ucapan Selamat Maulid Nabi Muhammad SAW 2026, Penuh Doa dan Makna
Desil DTSEN Bukan Label Permanen
Hal lain yang perlu dipahami, posisi desil bukan status yang berlaku selamanya. Kondisi sosial ekonomi keluarga dapat berubah dan posisi relatifnya dalam pemeringkatan juga dapat berubah ketika DTSEN diperbarui.
BPS menyebut pemutakhiran dilakukan melalui berbagai sumber, mulai dari data administrasi, survei dan sensus, pembaruan dari kementerian/lembaga serta pemerintah daerah, hingga pengecekan lapangan. Masyarakat juga dapat mengajukan pembaruan apabila menemukan data yang tidak sesuai kondisi sebenarnya.
Jadi, membaca Desil 10 sebagai label sederhana “orang kaya” juga kurang tepat. BPS sendiri menegaskan bahwa desil merupakan peringkat relatif kesejahteraan, bukan ukuran tunggal pendapatan atau kekayaan keluarga.
Pada akhirnya, polemik gaji Rp3 juta masuk Desil 10 menunjukkan bahwa data sosial ekonomi memang tidak bisa dibaca hanya dari satu angka. Penghasilan hanyalah salah satu bagian dari gambaran yang lebih besar.
Dengan banyaknya variabel yang digunakan, tujuan DTSEN adalah menyediakan basis data yang lebih akurat untuk membantu pemerintah menetapkan sasaran program dan kebijakan. Karena itu, jika data seseorang dirasa tidak sesuai, langkah yang lebih tepat bukan langsung menyimpulkan sistem keliru, tetapi mengecek dan mengajukan pemutakhiran melalui kanal resmi yang tersedia.
