Obrolan Warteg: Bijak Merespons 'Kupas Bawang'

Sabtu 22 Agu 2026, 10:49 WIB
Ilustrasi Obrolan Warteg, Sabtu, 22 Agustus 2026. (Sumber: Pos Kota/ Arif Setiadi)
Ilustrasi Obrolan Warteg, Sabtu, 22 Agustus 2026. (Sumber: Pos Kota/ Arif Setiadi)

Oleh : Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID –  Hari – hari ini soal pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram masih menjadi perbincangan publik.

Tak kerap mencuat anekdot orang kaya terbaru Indonesia adalah pengupas bawang. Tak sedikit yang berseloroh ingin beralih profesi menjadi pengupas bawang karena upahnya yang cukup menggiurkan.

Belakangan muncul video musik di media sosial dengan judul lagu kupas bawang dengan beragam versinya, ada yang parodi, koplo dan sejenisnya.

“Itu lagu asli atau kreasi modifikasi?” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg:  Lagi Jalankan Tugas Menteri, Diisukan Mundur 

“Kita tidak tahu, yang jelas sekarang lagu tersebut ikut menjadi viral. Syairnya di antaranya berisi harapan agar kroscek terhadap data dan angka – angka sebelum di-publish,” kata Yudi.

“Tujuannya agar tidak terjadi kekeliruan data, terlebih angka yang fantastis, tetapi sejatinya tidak masuk akal seperti upah pengupas bawang sebesar Rp700 ribu per kilogramnya,” jelas mas Bro.

“Betul Bro. Harga bawangnya sendiri cuma puluhan ribu per kg, mosok upah mengupas bawang puluhan kali lipat. Ini yang tidak logis,” kata Heri.

“Berarti yang salah yang kasih data dan angka dong, terus yang bertugas mengoreksi naskah, yang kroscek ulang,” kata Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Pujian Oke, Kritikan Sangat Diharapkan

“Itu dengan mudah dapat terdeteksi di mana letak kekeliruannya. Tentu dengan melihat prosesnya – alurnya,” kata Heri.

“Kalau dalam alur produksi berita, bisa ditelusuri dari awal. Dari naskah yang dibuat reporter atau wartawan, kemudian hasil editing bisa berjenjang sampai tiga tingkatan hingga verifikasi akhir sebelum ditayangkan,” urai mas Bro.

“Dalam proses redaksi, kroscek berjenjang tak hanya menyangkut validitas data dan angka, juga narasumbernya berkompeten tidak, faktual dan aktualitasnya. Tak kalah pentingnya asas manfaatnya bagi masyarakat, layak dan tidak layak, patut dan tidak patut,” tambah mas Bro.

“Meski datanya akurat, tapi tidak memberi nilai tambah,patut dipertimbangkan untuk dipublikasikan, terlebih data yang meragukan, fantastis dan tidak logis,” kata Heri.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Isu Penggantian Kapolri, DPR Bilang Tidak Benar

“Lantas bagaimana dengan naskah pidato para pejabat negara?,” tanya Yudi.

“Tentu ada tim yang menangani, ada ahlinya sesuai dengan tema pidato yang akan disampaikan. Apalagi dalam acara – acara resmi kenegaraan, pasti sudah melalui proses yang panjang dalam penyajian data dan angka yang melibatkan tim ahli, sebelum disampaikan kepada publik,” kata mas Bro.

“Artinya naskah pidato sudah klir dari segala aspek, tak hanya data dan angka, juga bahasa dan alur cerita. Lazimnya sebagai pejabat negara sudah percaya kepada tim ahli yang sudah teruji itu,” kata Heri.

“Kalau ada data yang aneh dan nyeleneh, gimana?” tanya Yudi.

“Hendaknya menjadi koreksi bersama. Sebab, naskah pidato dengan report yang begitu bagus menjadi tertutupi oleh satu kata yang keliru,” kata Heri.

“Itulah perlunya sikap bijak kita dalam merespons situasi yang sedang terjadi, termasuk soal kupas bawang yang lagi viral,” kata mas Bro.


Berita Terkait


News Update