“Itu dengan mudah dapat terdeteksi di mana letak kekeliruannya. Tentu dengan melihat prosesnya – alurnya,” kata Heri.
“Kalau dalam alur produksi berita, bisa ditelusuri dari awal. Dari naskah yang dibuat reporter atau wartawan, kemudian hasil editing bisa berjenjang sampai tiga tingkatan hingga verifikasi akhir sebelum ditayangkan,” urai mas Bro.
“Dalam proses redaksi, kroscek berjenjang tak hanya menyangkut validitas data dan angka, juga narasumbernya berkompeten tidak, faktual dan aktualitasnya. Tak kalah pentingnya asas manfaatnya bagi masyarakat, layak dan tidak layak, patut dan tidak patut,” tambah mas Bro.
“Meski datanya akurat, tapi tidak memberi nilai tambah,patut dipertimbangkan untuk dipublikasikan, terlebih data yang meragukan, fantastis dan tidak logis,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Isu Penggantian Kapolri, DPR Bilang Tidak Benar
“Lantas bagaimana dengan naskah pidato para pejabat negara?,” tanya Yudi.
“Tentu ada tim yang menangani, ada ahlinya sesuai dengan tema pidato yang akan disampaikan. Apalagi dalam acara – acara resmi kenegaraan, pasti sudah melalui proses yang panjang dalam penyajian data dan angka yang melibatkan tim ahli, sebelum disampaikan kepada publik,” kata mas Bro.
“Artinya naskah pidato sudah klir dari segala aspek, tak hanya data dan angka, juga bahasa dan alur cerita. Lazimnya sebagai pejabat negara sudah percaya kepada tim ahli yang sudah teruji itu,” kata Heri.
“Kalau ada data yang aneh dan nyeleneh, gimana?” tanya Yudi.
“Hendaknya menjadi koreksi bersama. Sebab, naskah pidato dengan report yang begitu bagus menjadi tertutupi oleh satu kata yang keliru,” kata Heri.
“Itulah perlunya sikap bijak kita dalam merespons situasi yang sedang terjadi, termasuk soal kupas bawang yang lagi viral,” kata mas Bro.
