Obrolan Warteg: Awas Kekeringan, Mari Hemat Air

Jumat 21 Agu 2026, 10:01 WIB
Ilustrasi Obrolan Warteg, Jumat, 21 Agustus 2026. (Sumber: Pos Kota/ Arif Setiadi)
Ilustrasi Obrolan Warteg, Jumat, 21 Agustus 2026. (Sumber: Pos Kota/ Arif Setiadi)

Oleh: Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID – Kekeringan yang mulai melanda sejumlah wilayah di Indonesia sejak Juli lalu, diperkirakan akan semakin meningkat.

Data menyebutkan Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan wilayah Banten, termasuk yang terdampak kekeringan dengan ratusan ribu jiwa mengalami krisis air bersih. Sementara ribuan hektar sawah gagal panen.

Di wilayah Banten, kekeringan menyebabkan lebih dua ribu hektare lahan kekeringan.

Begitu juga di Jawa Barat terdapat 17 wilayah masuk level awas kekeringan. Data BPBD  (Badan Penanggulangan Bencana Daerah)  menyebutkan kekeringan telah berdampak kepada lebih 500 ribu jiwa.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Ingin Demo, Listyo Mau jadi Aktivis

 “Kekeringan diperkirakan akan terjadi hingga pertengahan bulan Oktober, sementara puncak musim kemarau berlangsung Agustus – September tahun 2026 ini,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

“Sumur bor mulai kering, kalaupun masih mengalir, airnya sudah banyak menyusut seperti di wilayah Bekasi, baik Kota maupun kabupaten,” tambah Yudi.

“Guna mencegah krisis air selama musim kemarau, pemkab Bekasi menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak kekeringan di 35 desa yang tersebar pada 11 wilayah kecamatan,” jelas mas Bro.

Seperti diberitakan, menurut data BPBD Kabupaten Bekasi hingga pekan ini sudah 5,7 juta liter air bersih yang disalurkan kepada hampir 66 ribu jiwa terdampak kekeringan.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Tak Selamanya Mengekor Itu Buruk

“Yang jelas dampak kekeringan tak hanya dirasakan masyarakat yang membutuhkan air untuk keperluan sehari – hari, juga pada area pertanian produktif. Jika tidak segera dicarikan solusi, petani terancam gagal panen alias puso,” kata Heri.

“Pomponisasi di areal pertanian produktif menjadi salah satu solusi, hanya saja jika sungai juga ikut kering, repot juga jika mengandalkan sumur pompa mengingat debit air juga seret,” urai Yudi.

“Semoga kekeringan tidak berkepanjangan, hujan segera datang,” kata Heri.

“Negeri kita mengenal dua musim, kemarau dan penghujan. Repotnya lagi di musim kemarau kekeringan melanda, kita berharap segera turun hujan, begitu musim penghujan datang, banjir menerjang,”  urai mas Bro.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Teganya, Uang Rakyat untuk Bancakan

“Jadi kembali kepada bagaimana kita semua menjaga dan merawat dan melestarikan lingkungan, bukan merusaknya, juga memperbaiki tata kelola air bersih bagi kehidupan,” ujar Heri.

“Tak kalah pentingnya mari kita hemat air, terlebih di musim kemarau seperti sekarang ini,” harap mas Bro.


Berita Terkait


News Update