Puncak Musim Kemarau 2026: Bulan Apa dan Wilayah Mana yang Paling Kering?

Kamis 20 Agu 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi prakiraan puncak musim kemarau 2026. (Sumber: BMKG)
Ilustrasi prakiraan puncak musim kemarau 2026. (Sumber: BMKG)

Ada alasan mengapa kondisi tahun ini perlu mendapat perhatian lebih. Dalam pemutakhiran musim kemarau 2026, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori Bawah Normal, atau lebih kering dibandingkan kondisi biasanya. Sebanyak 482 ZOM yang mencakup sekitar 56,18 persen luas daratan Indonesia masuk dalam kategori tersebut.

Durasi kemarau juga menjadi perhatian. Sebanyak 437 ZOM atau sekitar 48,77 persen luas daratan diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normal.

Kondisi tersebut berkaitan dengan perkembangan El Niño. Dalam pembaruan Juni, BMKG mencatat indeks ENSO telah berada di atas batas netral selama lima dasarian. Peluang El Niño dengan intensitas lemah diperkirakan 100 persen, moderat 98 persen, dan kuat 62 persen.

Pada perkembangan berikutnya, BMKG pada akhir Juli menyebut El Niño diperkirakan bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027. Potensi IOD positif pada September–Desember 2026 juga disebut dapat memperkuat risiko kekeringan.

Namun, fenomena iklim tersebut tidak berarti setiap daerah akan mengalami panas dan kering dengan intensitas yang sama.

Baca Juga: Petani di Lebak Terpaksa Panen Lebih Awal saat Kemarau Panjang, Hasil Anjlok 70 Persen

Wilayah yang Perlu Waspada

Jika melihat pola musim kemarau 2026, wilayah selatan Indonesia menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian lebih, terutama daerah yang memang memiliki musim kemarau relatif tegas.

"Pada bulan Agustus 2026, puncak musim kemarau terjadi di Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua." dikutip dari website Dinas Sumber Daya Air Jawa Barat, Kamis 20 Agustus 2026.

1. Pulau Jawa

Sebagian besar Pulau Jawa diperkirakan mengalami kondisi kemarau yang lebih kering dari biasanya. Jawa Tengah hingga Jawa Timur termasuk wilayah yang berada dalam cakupan puncak kemarau Agustus.

Dampaknya bisa terasa dalam kehidupan sehari-hari. Sumber air permukaan dapat berkurang, lahan pertanian lebih membutuhkan pengelolaan air, sementara risiko kebakaran vegetasi meningkat ketika hari tanpa hujan berlangsung panjang.

2. Bali

Bali juga termasuk wilayah yang perlu memperhatikan periode kemarau. Kondisi kering bukan hanya persoalan suhu siang hari, tetapi juga menyangkut ketersediaan air dan potensi kebakaran lahan.

Bagi masyarakat maupun pelaku usaha pariwisata, informasi prakiraan cuaca tetap penting karena hujan lokal masih mungkin terjadi meskipun suatu wilayah secara umum sedang berada dalam musim kemarau.

3. Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur


Berita Terkait


News Update