Puncak Musim Kemarau 2026: Bulan Apa dan Wilayah Mana yang Paling Kering?

Kamis 20 Agu 2026, 15:00 WIB
Ilustrasi prakiraan puncak musim kemarau 2026. (Sumber: BMKG)
Ilustrasi prakiraan puncak musim kemarau 2026. (Sumber: BMKG)

Nusa Tenggara merupakan salah satu wilayah yang sejak awal diperkirakan memasuki musim kemarau lebih cepat. Karakteristik wilayah yang relatif kering membuat periode tanpa hujan perlu diantisipasi dengan lebih serius.

Khususnya di Nusa Tenggara Timur, sebagian wilayah bahkan termasuk daerah yang dapat mengalami puncak kemarau lebih akhir, sehingga kondisi kering bisa bertahan hingga September.

4. Kalimantan bagian selatan dan timur

Kalimantan memang sering diasosiasikan dengan curah hujan tinggi, tetapi kondisi musim kemarau 2026 tidak seragam. Sejumlah wilayah Kalimantan juga masuk dalam pola kemarau dan perlu memperhatikan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.

BMKG bahkan melaporkan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah pada awal Agustus 2026, termasuk Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur.

5. Wilayah Indonesia lainnya

Puncak kemarau tidak hanya terjadi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan. Sebagian wilayah Sumatra, Sulawesi, Maluku, hingga Papua juga memiliki waktu puncak yang berbeda-beda.

Inilah alasan mengapa istilah wilayah paling kering sebaiknya tidak dipahami sebagai satu daftar provinsi yang berlaku sepanjang tahun. Kondisi kekeringan dapat berubah mengikuti hujan, topografi, pola atmosfer, dan karakteristik lokal.

Baca Juga: Kemarau Ancam Ratusan Hektare Sawah di Pandeglang, Dinas Pertanian Perkuat Mitigasi Cegah Gagal Panen

Tips Menghadapi Hari Tanpa Hujan

Menghadapi kemarau sebenarnya tidak harus menunggu sampai air mulai sulit diperoleh. Beberapa langkah sederhana justru lebih efektif jika dilakukan sejak awal.

1. Gunakan air seperlunya

Kebiasaan sederhana seperti memperbaiki keran bocor, mengurangi penggunaan air untuk aktivitas yang tidak mendesak, dan menggunakan kembali air yang masih layak dapat membantu menghemat persediaan.

2. Perhatikan kondisi sumber air

Jika tinggal di daerah yang mengandalkan sumur atau sumber air lokal, perhatikan perubahan debitnya. Ketika permukaan air mulai menurun, penghematan sebaiknya dilakukan lebih awal.

3. Jangan membakar lahan sembarangan

Vegetasi kering jauh lebih mudah terbakar ketika hujan jarang turun. Aktivitas pembakaran sampah atau lahan dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama ketika angin dan kondisi atmosfer mendukung penyebaran api.

4. Pantau prakiraan cuaca

Informasi musim memberikan gambaran dalam skala yang lebih panjang. Sementara itu, prakiraan cuaca harian atau mingguan membantu menentukan kondisi aktual di suatu daerah.


Berita Terkait


News Update