Pengantar: Tiga tulisan berseri ini disajikan untuk memperingati HUT ke-81 Proklamasi Kemerdekaan RI. Mengusung judul "Menuju Adil dan Makmur", topik ini beririsan langsung dengan tema HUT RI tahun 2026.
“Para pemimpin negeri di semua tingkat hendaknya terus memberikan keteladanan dengan memedulikan rakyat. Setiap kebijakan harus digulirkan demi keadilan dan kemakmuran rakyat, bukan untuk kerabat dekat,” tegas Harmoko.
Pernyataan tersebut sejalan dengan tujuan pendirian NKRI: melindungi segenap bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Amanat ini terekam jelas dalam Pembukaan UUD 1945, khususnya alinea keempat yang menyebut kata "adil" hingga tiga kali. Pemimpin yang mengabaikan tugas ini sama saja mengingkari tujuan bernegara yang digagas para founding fathers.
Setelah membahas kedaulatan dan keadilan pada sesi sebelumnya, kini fokus beralih ke makna kemakmuran. Makmur berarti berkecukupan secara lahiriah sekaligus tenteram secara batiniah.
Baca Juga: Kopi Pagi: Menuju Adil dan Makmur (2)
Oleh karena itu, indeks kemakmuran suatu negara tidak hanya diukur dari pendapatan, pendidikan, dan kesehatan, tetapi juga dari kualitas lingkungan, kesetaraan, inklusi minoritas, serta rasa aman masyarakatnya.
Prinsip ini sejalan dengan filosofi Jawa Gemah Ripah Loh Jinawi atau kondisi wilayah yang subur, pangan melimpah, dan perdagangan maju sehingga masyarakatnya mandiri tanpa bergantung pada subsidi. Filosofi ini berpasangan dengan Tata Tentrem Kerta Raharjo, yakni tatanan masyarakat yang tertib, taat norma, dan bebas dari rasa takut.
Apakah kondisi ideal ini sudah terwujud? Indonesia sedang berproses menuju ke sana, setidaknya menyongsong Indonesia Emas 2045. Pemerintah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui berbagai kebijakan prorakyat di bidang pangan, papan, dan energi.
Meski hasilnya mulai terasa, berbagai kekurangan yang ada tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus terus dibenahi. Adapun catatan skor Prosperity Index 2026 yang menempatkan Indonesia pada posisi relatif rendah hendaknya tidak menyurutkan langkah. Catatan tersebut, bersama berbagai kritik dan masukan, harus disikapi bijak sebagai pemacu semangat untuk terus membangun.
Baca Juga: Kopi Pagi: Merawat Kepercayaan Publik
Optimisme menuju "Macan Asia", baik pada sektor ekonomi, kemandirian pangan, energi, air, maupun pertahanan, terbangun atas melimpahnya sumber daya alam serta potensialnya sumber daya manusia yang berkualitas dan berintegritas.
Namun, modal tersebut hanya akan berdampak jika para pemimpin konsisten memberikan keteladanan, menjaga integritas, dan menjauhi praktik nepotisme. Kepercayaan publik akan terbangun dengan sendirinya apabila pemerintah hadir secara bersih, transparan, dan menjunjung tinggi penegakan hukum yang adil.
Negara memegang peran strategis dalam mewujudkan keadilan sosial dan kemakmuran di seluruh sektor kehidupan. Di sisi lain, setiap warga negara juga bertanggung jawab menghormati hak sesama. Keadilan dan kemakmuran sejati harus kita mulai dari diri sendiri. (Azisoko)
