POSKOTA.CO.ID - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengungkapkan rencana membuat hujan buatan untuk mengatasi masalah polusi udara di Jakarta.
Musim kemarau 2026 yang berlangsung di Indonesia membuat sejumlah wilayah mengalami kekeringan. Di Jakarta, kondisi ini membuat kualitas udara ibu kota semakin memburuk karena polusi yang meningkat.
Hujan yang sudah lama tidak mengguyur Jakarta karena kamarau panjang turut memengaruhi kondisi polusi udara Jakarta yang kian memburuk.
“Kami sedang menyiapkan hujan buatan, mudah-mudahan awannya ada, begitu awannya ada kami segera membuat hujan buatan untuk Jakarta dan sekitarnya,” ungkap Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Lantas, apa itu sebenarnya hujan buatan dan bagaimana cara kerjanya?
Baca Juga: Kualitas Udara Jakarta Hari Ini 14 Agustus 2026 Masuk 5 Terburuk Dunia, Cek AQI dan Polusinya
Apa Itu Hujan Buatan?
Dihimpun dari situs resmi Badan Risat dan Inovasi Nasional (BRIN), hujan buatan atau yang dikenal dengan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) merupakan upaya manusia untuk menambah atau mempercepat intensitas curah hujan di daerah tertentu dengan pengendalian air di atmosfer.
Upaya ini dilakukan dengan tujuan meminimalkan risiko bencana alam akibat faktor iklim dan cuaca, mulai dari kekeringan panjang hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Mengutip informasi dari BPBD Kota Malang, hujan buatan umum dilakukan untuk meningkatkan kuantitas curah hujan di suatu wilayah yang mengalami krisis hujan atau kekeringan ekstrem, terutama saat musim kemarau tiba.
Baca Juga: Musim Kemarau 2026 di Indonesia Sampai Kapan? Ini Kata BMKG
Bagaimana Proses Hujan Buatan?
Secara garis besar, TMC yang biasa digunakan untuk mengatasi masalah kekeringan tidak serta merta membuat hujan turun begitu saja di suatu daerah.
Namun, cara kerja hujan buatan berfokus pada upaya mendorong awan agar proses pembentukan hujan bisa terjadi lebih cepat. Langkah ini dilakukan dengan penyemaian garam (NaCl).
Masih dihimpun dari website resmi BRIN, proses TMC dilakukan lewat kerja sama antara BRIN, BMKG, dan TNI AU. Berikut ini cara membuat hujan buatan untuk meningkatkan curah hujan.
Baca Juga: Kemarau Panjang, Pemkot Tangsel Salurkan 339.200 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
- BMKG memiliki peran utama untuk menyediakan data dan informasi mengenai cuaca, awan, dan arah angin. Nantinya, radar cuaca BMKG akan menginformasikan keberadaan awan target dan arah kekuatan angin ke pilot.
- Kemudian, TNI AU yang menerima informasi tersebut akan membawa pesawat Casa berisi muatan garam (NaCl) yang akan menyemai awan hujan target. Posisi pesawat selalu berada di antara arah angin dan awan hujan target.
- Ada beberapa bahan yang biasanya digunakan dalam proses ini, yaitu zat glasiogenik seperti argentium iodida atau perak iodida. Selain itu, ada juga zat higroskopis seperti garam, CaC12, dan urea.
- Pesawat Casa TNI AU bertanggung jawab menaburkan bahan kimia tersebut di titik lokasi yang sudah ditentukan untuk membantu mempercepat proses kondensasi awan.
- Partikel garam (NaCl) dan bahan kimia lainnya yang ditaburkan berfungsi sebagai tempat berkumpulnya uap air. Jika kelembapan semakin terkumpul dan awan hujan berwarna abu-abu sudah terbentuk, maka butir air akan terbentuk dan turun menjadi tetesan air hujan.
Apa Efek Hujan Buatan?
Hujan buatan digunakan mangatasi masalah iklim, terutama saat musim kemarau. Berikut ini beberapa efek atau manfaat hujan buatan.
- Meningkatkan curah hujan untuk mengatasi kekeringan saat musim kemarau.
- Menambah debut air di waduk, danau, dan sumber air lainnya.
- Membantu mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
- Membantu mengatasi masalah polusi udara.
- Mengatasi intensitas curah hujan ekstrem saat musim hujan di wilayah rawan banjir.
