Namun, cara kerja hujan buatan berfokus pada upaya mendorong awan agar proses pembentukan hujan bisa terjadi lebih cepat. Langkah ini dilakukan dengan penyemaian garam (NaCl).
Masih dihimpun dari website resmi BRIN, proses TMC dilakukan lewat kerja sama antara BRIN, BMKG, dan TNI AU. Berikut ini cara membuat hujan buatan untuk meningkatkan curah hujan.
Baca Juga: Kemarau Panjang, Pemkot Tangsel Salurkan 339.200 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan
- BMKG memiliki peran utama untuk menyediakan data dan informasi mengenai cuaca, awan, dan arah angin. Nantinya, radar cuaca BMKG akan menginformasikan keberadaan awan target dan arah kekuatan angin ke pilot.
- Kemudian, TNI AU yang menerima informasi tersebut akan membawa pesawat Casa berisi muatan garam (NaCl) yang akan menyemai awan hujan target. Posisi pesawat selalu berada di antara arah angin dan awan hujan target.
- Ada beberapa bahan yang biasanya digunakan dalam proses ini, yaitu zat glasiogenik seperti argentium iodida atau perak iodida. Selain itu, ada juga zat higroskopis seperti garam, CaC12, dan urea.
- Pesawat Casa TNI AU bertanggung jawab menaburkan bahan kimia tersebut di titik lokasi yang sudah ditentukan untuk membantu mempercepat proses kondensasi awan.
- Partikel garam (NaCl) dan bahan kimia lainnya yang ditaburkan berfungsi sebagai tempat berkumpulnya uap air. Jika kelembapan semakin terkumpul dan awan hujan berwarna abu-abu sudah terbentuk, maka butir air akan terbentuk dan turun menjadi tetesan air hujan.
Apa Efek Hujan Buatan?
Hujan buatan digunakan mangatasi masalah iklim, terutama saat musim kemarau. Berikut ini beberapa efek atau manfaat hujan buatan.
- Meningkatkan curah hujan untuk mengatasi kekeringan saat musim kemarau.
- Menambah debut air di waduk, danau, dan sumber air lainnya.
- Membantu mengatasi masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
- Membantu mengatasi masalah polusi udara.
- Mengatasi intensitas curah hujan ekstrem saat musim hujan di wilayah rawan banjir.
