Warga Heboh Angin Puyuh Muncul di Alun-alun Menes, BMKG Beri Penjelasan

Kamis 13 Agu 2026, 16:43 WIB
Sejumlah warga di Kecamatan Menes, Pandeglang, saat menyaksikan fenomena angin puyuh atau puting beliung mikro. (Sumber: Pos Kota/ Samsul Fatoni)
Sejumlah warga di Kecamatan Menes, Pandeglang, saat menyaksikan fenomena angin puyuh atau puting beliung mikro. (Sumber: Pos Kota/ Samsul Fatoni)

PANDEGLANG, POSKOTA.CO.ID - Fenomena angin puyuh atau puting beliung skala mikro muncul di kawasan Alun-alun Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis, 13 Agustus 2026. Kemunculan pusaran angin tersebut sontak menarik perhatian warga yang berada di sekitar lokasi.

Sejumlah warga bahkan mengabadikan fenomena itu menggunakan kamera telepon seluler. Pusaran angin terlihat berputar di area terbuka sebelum akhirnya menghilang dalam waktu singkat.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Kelas I Banten, Apolinaris Samsudin Geru, menjelaskan angin puyuh merupakan fenomena siklon berskala mikro yang terbentuk akibat adanya perbedaan tekanan dan temperatur udara.

Fenomena tersebut umumnya terjadi ketika udara panas dan lembap di permukaan bumi bergerak naik dengan cepat, sementara udara yang lebih dingin di lapisan atas bergerak turun.

Baca Juga: BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Kota, El Nino Bikin Sebagian Wilayah Tetap Kering

"Pertemuan dua massa udara itu dapat membentuk arus vertikal yang kuat. Ditambah adanya perbedaan kecepatan angin pada lapisan udara, terjadi gesekan yang kemudian memicu terbentuknya pusaran," ungkap Apolinaris.

Menurut dia, ketika tekanan udara di bagian tengah pusaran menjadi sangat rendah, udara di sekitarnya akan tertarik masuk dengan kecepatan tinggi.

Jika pusaran tersebut cukup kuat dan memanjang hingga ke permukaan tanah, maka terbentuklah angin puyuh yang menyerupai corong.

Apolinaris menjelaskan, angin puyuh memiliki skala yang relatif kecil dengan diameter sekitar 10 hingga 100 meter. Fenomena ini juga biasanya berlangsung singkat, yakni sekitar 3 hingga 10 menit.

Baca Juga: Warga Sumur Pandeglang Ambil Bola di Sungai Berujung Diserang Buaya Muara, Bahu Kanan Terluka

Kemunculannya lebih berpotensi terjadi pada siang hingga sore hari ketika kondisi udara cukup panas dan lembap.

"Angin puyuh memiliki skala yang relatif kecil, dengan diameter sekitar 10 hingga 100 meter. Fenomena ini juga biasanya berlangsung singkat, sekitar 3 hingga 10 menit, dan lebih berpotensi terjadi pada siang hingga sore hari ketika kondisi udara cukup panas," jelasnya.

Meski berukuran relatif kecil, kecepatan angin dalam fenomena tersebut dapat mencapai sekitar 50 hingga 100 kilometer per jam.

Angin puyuh juga lebih sering terlihat di area terbuka seperti lapangan, persawahan maupun kawasan permukiman.

Baca Juga: Penjual Kupat Sayur di Pandeglang Diduga Cabuli Anak Sambung

Warga Diminta Tidak Mendekati Pusaran Angin

Fenomena angin puyuh yang muncul di Alun-alun Menes kali ini dilaporkan berskala kecil dan tidak terlalu berdampak terhadap bangunan maupun fasilitas umum.

Kendati demikian, masyarakat tetap diminta waspada apabila melihat fenomena serupa di lingkungan sekitar.

Dengan karakteristiknya yang dapat terbentuk secara cepat dan berlangsung singkat, masyarakat disarankan tidak menjadikan kemunculan angin puyuh sebagai tontonan dari jarak dekat.

"Keselamatan tetap menjadi prioritas ketika fenomena tersebut terjadi. Warga sebaiknya tidak mendekati pusaran angin dan segera mencari tempat yang lebih aman apabila melihat fenomena serupa terjadi di sekitar lokasi," ujar Apolinaris.


Berita Terkait


News Update