Kondisi tersebut membuat warga khawatir terhadap keberlangsungan ekosistem Sungai Cihaur maupun aktivitas masyarakat yang berada di sekitar aliran sungai.
Warga menyebut jumlah ikan di sungai semakin berkurang. Para petani juga mulai khawatir menggunakan air Sungai Cihaur untuk kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Di tengah keresahan tersebut, masyarakat kini menunggu keterbukaan pemerintah mengenai perusahaan yang disebut-sebut sudah teridentifikasi sebagai sumber pencemaran.
Sebab, di satu sisi DLH KBB menyatakan telah mengantongi perusahaan terduga pencemar, tetapi di sisi lain identitas perusahaan masih ditutup dengan alasan kewenangan penanganan berada di tingkat Provinsi Jawa Barat.
Publik pun masih menunggu hasil uji laboratorium dan langkah tegas pemerintah untuk memastikan siapa pihak yang bertanggung jawab atas dugaan pencemaran Sungai Cihaur.
