Sampel tersebut selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk menguji sejumlah parameter baku mutu lingkungan.
"Untuk hasilnya nanti jadi rujukan tim dalam menentukan sanksi," kata Galih.
Sangat disayangkan, ketika ditanya mengenai perusahaan yang diduga menjadi pelaku pencemaran, DLH KBB kembali menyatakan belum dapat mengungkapkannya.
Baca Juga: Dikeluhkan Warga Akibat Pencemaran Lingkungan, Bos Gudang Limbah B3 Lempar Kesalahan ke Karyawan
"Kami (DLH) KBB enggak bisa ungkap karena penanganan kasus ini oleh PPLH DLH Jabar, jadi yang berhak mengumumkan siapa tersangkanya ada di mereka," ujarnya.
Belum dimunculkannya nama perusahaan perusak lingkungan itu menjadikan tanda tanya bagi warga terutama warga sekitar.
Warga mengaku kondisi tersebut bukan persoalan baru. Pencemaran disebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan terjadi hampir setiap hari.
Salah seorang warga yang sehari-harinya berprofesi sebagai petani di sekitar bantaran Sungai Cihaur, Didin 50 tahun mengatakan, pencemaran telah berlangsung sekitar 25 tahun.
"Jelas kami penasaran. Kenapa perusahaannya tidak dimunculkan, kan ada di wilayah Kabupaten Bandung Barat," ucap Didin.
Sebelumnya, dugaan pencemaran Sungai Cihaur menjadi sorotan setelah ditemukan aliran cairan berwarna merah yang masuk langsung ke badan sungai.
Saluran tersebut terlihat berada di bawah tanah dan bermuara langsung ke Sungai Cihaur. Selain berwarna merah, cairan juga tampak berbusa dan mengeluarkan aroma tidak sedap.
Sejumlah warga bahkan mengungkapkan bahwa aliran limbah yang masuk ke sungai terkadang memiliki suhu cukup panas. Pada kondisi tertentu, aliran tersebut disebut terlihat seperti mengeluarkan kepulan.
