Rahmat menilai keberhasilan menurunkan NRW juga akan berdampak langsung terhadap efisiensi operasional PAM Jaya. Perusahaan dapat mengoptimalkan air yang sudah diproduksi tanpa selalu bergantung pada penambahan kapasitas produksi.
"Penurunan NRW akan memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi operasional perusahaan sekaligus mempercepat perluasan layanan tanpa harus selalu menambah kapasitas produksi air," ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kepemimpinan Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, yang dinilai aktif memantau kondisi pelayanan secara langsung di lapangan.
Menurut Rahmat, pimpinan yang turun langsung memantau titik kebocoran, termasuk pada malam hari dan hari libur, dapat mendorong jajaran perusahaan bergerak lebih cepat dalam menangani gangguan pelayanan.
"Gaya kepemimpinan Direktur Utama PAM Jaya yang tidak hanya duduk di belakang meja. Beliau kerap turun langsung meninjau titik-titik kebocoran, baik siang maupun malam, bahkan pada hari libur," ucapnya.
Rahmat menilai kehadiran pimpinan di lapangan dapat menjadi motivasi bagi pegawai untuk meningkatkan respons terhadap berbagai persoalan pelayanan.
"Ketika pimpinan memberikan teladan dengan turun langsung ke lapangan, semangat kerja pegawai ikut meningkat. Masyarakat pun dapat melihat bahwa perusahaan benar-benar hadir menyelesaikan persoalan, bukan sekadar menerima laporan," tuturnya.
Ia optimistis rangkaian transformasi PAM Jaya, mulai dari percepatan penanganan kebocoran, digitalisasi layanan, pembangunan infrastruktur hingga penguatan tata kelola, dapat menjadi fondasi untuk mewujudkan akses air minum perpipaan secara merata di Jakarta.
"Pemenuhan layanan air bersih adalah salah satu pemenuhan kebutuhan dasar, tentu ini harus didukung bersama," pungkasnya.
