Selain Hemat Pengeluaran Dapur, Tanam Cabai di Pancoran Mas Simbol Kemandirian

Jumat 07 Agu 2026, 22:53 WIB
Koordinator BPP Ratujaya, Dip Pramudya memberikan penyuluhan Gerakan Tanam Cabai di Kampung Rawageni, Kelurahan Ratujaya, Kota Depok, untuk memperkuat ketahanan pangan warga. (Sumber: Dok. Istimewa)
Koordinator BPP Ratujaya, Dip Pramudya memberikan penyuluhan Gerakan Tanam Cabai di Kampung Rawageni, Kelurahan Ratujaya, Kota Depok, untuk memperkuat ketahanan pangan warga. (Sumber: Dok. Istimewa)

DEPOK, POSKOTA.CO.ID - Bagi sebagian orang, cabai hanya pelengkap rasa makanan. Rasanya pedas, ukurannya kecil, nyaris tidak pernah absen dalam berbagai hidangan.

Di balik bentuknya yang sederhana, ternyata cabai menyimpan peran jauh lebih besar daripada sekadar penyedap masakan. Di RW 01 Kampung Rawageni, Kelurahan Ratujaya, Kota Depok, cabai kini menjadi simbol kemandirian pangan sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat.

Melalui Gerakan Tanam Cabai (Gertam Cabe), warga diajak memanfaatkan lahan sekecil apa pun untuk menghasilkan kebutuhan dapur sendiri.

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Ratujaya, Dip Pramudya mengatakan, cabai merupakan salah sebuah komoditas paling berpengaruh terhadap inflasi. Ketika harga cabai melonjak, dampaknya kerap merembet pada kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya.

Baca Juga: Cemburu Lihat Mantan Pacar Bermesraan, Pria di Depok Sayat Leher Pegawai Warung Pecel Pakai Cutter

"Kalau masyarakat bisa menanam cabai sendiri, setidaknya mereka tidak perlu membeli untuk kebutuhan sehari-hari. Dari situ pengeluaran rumah tangga bisa ditekan," kata Dip beberapa waktu lalu.

Menurutnya, manfaat menanam cabai tidak berhenti pada penghematan belanja, tetapi hasilnya dapat dijual dan menjadi tambahan pemasukan keluarga. Jika tidak dijual, hasil panen tetap memberikan keuntungan karena mengurangi biaya kebutuhan dapur.

Bagi Dip, cabai merupakan tanaman yang tepat bagi masyarakat yang baru mulai belajar berkebun. Teknik budidayanya relatif mudah dipelajari dan menjadi bekal sebelum mencoba menanam komoditas lain seperti tomat maupun terong yang masih berada dalam satu keluarga tanaman.

Ia berharap kebiasaan menanam tidak hanya dilakukan orang dewasa, tetapi juga dikenalkan kepada anak-anak sejak dini. Menurutnya, mengenal tanaman merupakan bagian dari ilmu bertahan hidup yang akan selalu dibutuhkan.

Baca Juga: Kejari Depok Seret Ketua Pokja jadi Tersangka Kasus Korupsi Pengadaan RRI Cimanggis

"Kalau kita bisa menanam tanaman, berarti kita bisa mengajarkan anak-anak seni bertahan hidup. Mereka perlu mengenal tanaman sejak kecil, mengetahui mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak. Ilmu seperti ini tidak akan pernah sia-sia," ujarnya.

Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, Dip menegaskan masyarakat tetap bisa bercocok tanam dengan memanfaatkan pekarangan, polybag, maupun sistem hidroponik.

Ia mengapresiasi rencana penggunaan irigasi tetes otomatis di RW 01 Rawageni. Menurutnya, inovasi sederhana tersebut sudah mencerminkan praktik pertanian modern karena memanfaatkan teknologi untuk memudahkan proses budidaya.

"Pertanian modern tidak harus menggunakan alat yang rumit. Begitu ada sentuhan teknologi yang membantu pekerjaan, seperti irigasi otomatis, itu sudah termasuk pertanian modern," ucapnya.

Selain itu, Dip berharap Gerakan Tanam Cabai dapat berkembang menjadi lebih dari sekadar kegiatan menanam. Kebun cabai di lingkungan saja, tapi warga diharapkan dapat menjadi ruang belajar bersama, tempat anak-anak hingga orang dewasa mengenal dunia pertanian secara langsung sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya ketahanan pangan.

Sebagai bentuk dukungan, BPP Ratujaya siap memberikan pendampingan mulai dari penyemaian benih, penanaman, perawatan, pengendalian hama dan penyakit, hingga proses panen. Melalui pendampingan tersebut, semakin banyak warga diharapkan memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan keluarga sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari lingkungan terkecil.


Berita Terkait


News Update