Ekonomika Pancasila: Presiden Prabowo dan Penyehatan Negara

Rabu 05 Agu 2026, 16:33 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)

Mulia dan keren bukan cita-citanya? Tentu. Terlebih, adil dan sentosa ini dalam konteks negara merdeka selalu dihadapkan dengan kata penderitaan. Sebuah keadaan yang dinajiskan karena itu prodak penjajahan.

Penderitaan artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan dapat didefinisikan sebagai keadaan menyedihkan yang harus ditanggung oleh seseorang baik sengaja maupun tidak. Dus, merdeka itu artinya bahagia, bebas derita, berdaulat dan mandiri (berdikari).

Dalam sejarahnya, kondisi adil dan sentosa di sebuah negara ternyata hanya bisa hadir jika ditopang oleh warganegara dan pemimpin yang punya lima karakter: syaja'ah (berani), sidiq (jujur), amanah (trust), almithsalii (idealis), dan fatanah (cerdas). Artinya, tanpa mental dan perilaku berani, jujur, trust, idealis dan cerdas maka tak mungkin hadir keadilan dan kesentosaan. Artinya makin terpenuhi 5 kondisi itu maka makin tinggi indexnya.

Sayangnya, kita kini panen sikap dan perilaku sebaliknya: khianat (pengkhianatan), dendam (pendendam), tamak (ketamakan), dengki (kedengkian) dan sombong (kesombongan). Praktis suasana hubungan antar warganegara kita begitu menyesakkan, terutama atmosfir ekonomi-politik dan hukum terkini. Mereka mempertontonkan saling berkhianat, saling mendendam, saling bertamak-ria, saling berdengki dan saling sombong yang kelewat batas.

Kultur jegal-menjegal itu kini dianggap wajar. Tradisi tidak setia dan selingkuh itu kini trendi. Kelakuan bohong dan menipu itu kini seperti keharusan. Bersikap menusuk dari belakang dan mengadu domba itu ciri kesuksesan. Nyolong, nyopet, nggarong, ngrampok dan ngentit kini dijadikan rukun kekuasaan ekonomi politik dan politisi Indonesia yang merdeka.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Memunggungi Ekonomi Laut Kita

Padahal, dalam hukum semesta dikatakan bahwa barang siapa ingkar dan aniaya pada sesama, sesungguhnya ia ingkar dan aniaya terhadap dirinya sendiri. Ini hukum tabur tuai yang pasti persisi hasilnya. Ini perjalanan hukum alamraya yang tidak tak terbantahkan. Nah, tak ada pilihan bagi Prabowo Subianto harus menghentikan "warisan tradisi tersebut" secara seksama, segera dan secepatnya serta sesingkat-singkatnya.

Di tengah index prestasi dalam kenegaraan yang makin minus, kita kini menikmati negara 78 tahun merdeka yang mengalami kedaruratan di mana-mana. Minimal ada lima darurat nasional: 1)Darurat politik, karena kita menghapus konstitusi asli; 2)Darurat ekonomi, karena dicengkeram oligarki yang tamak; 3)Darurat pangan, karena dihabisi elnino dan impor pangan; 4)Darurat pendidikan, karena kita dihempas liberalisasi dan komersialisasi; 5)Darurat budaya, karena kini penetrasi budaya asing begitu hegemonik di semua lini.

Mengatasinya, kita butuh pemimpin crank dan menyempal; jenius lahir batin yang wakaf nyawa untuk jihad lima hal: 1) Menjadikan kembali pancasila sebagai sumber bernegara; 2) Mengembalikan konstitusi asli; 3) Memilih pembantu presiden yang jenius, jujur, berani, out of the box dan outward-looking; 4) Menghidupkan kembali GBHN agar semua pembangunan itu terintegrasi dan sambung menyambung; 5) Memutar balik haluan keindonesiaan menjadi ipoleksosbudhankam yang bertuhan, bermanusia, bersemesta secara resiprokal (theo-antro-eco-centris).

Jika kita bergotong-royong atasi hal-hal di atas, indeks kenegaraan kita pasti top. Lalu, kita akan menuju mercusuar dunia: jadi peradaban martabatif. Semoga presiden Prabowo Subianto dan teamnya memilih jadi patriot sejati pancasilais yang menyehatkan republik kita semua.


Berita Terkait


News Update