Ironisnya, selama bertahun-tahun ia tetap bertahan berjualan meski setiap hari harus menghadapi debu tebal. Baginya, debu sudah menjadi risiko pekerjaan yang bisa diatasi dengan terus membersihkan tempat usaha.
"Kalau debu sudah biasa, tinggal sering dibersihkan. Yang paling berat sekarang justru tidak ada pembeli karena banyak pekerja sudah tidak bekerja," katanya.
Keluhan serupa disampaikan Hidayat 40 tahun, yang merupakan pedagang makanan keliling, ia biasa mangkal saat jam istirahat para pekerja kapur.
Baca Juga: DPR Apresiasi Kemenhub Revitalisasi Jalur KA Ciranjang-Cipatat
"Pendapra justru malah turun. Biasanya saat jam istirahat ramai, sekarang pelanggan banyak yang hilang karena mereka sudah tidak bekerja lagi," tuturnya.
Untuk menjaga dagangannya tetap layak dijual, Hidayat bahkan harus mengeluarkan biaya tambahan membeli plastik tebal agar makanan tidak dipenuhi debu.
"Saya tahu risikonya. Dagangan harus ditutup rapat supaya tidak kena debu. Tapi dari sini juga saya mencari nafkah," ujarnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan dilema besar yang kini dihadapi Cipatat. Persoalan lingkungan memang harus diselesaikan agar kualitas udara membaik dan kesehatan masyarakat terlindungi.
Baca Juga: Diresmikan Menhub, Jalur KA Cianjur - Ciranjang - Cipatat Beroperasi Kembali
Namun di saat yang sama, ribuan pekerja, pedagang kecil, hingga pelaku usaha mikro bergantung pada denyut aktivitas industri batu kapur.
Warga berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penertiban industri, tetapi juga menghadirkan solusi yang mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni menjaga kelestarian lingkungan tanpa mematikan sumber penghidupan masyarakat.
Sebab bagi warga Cipatat, persoalannya bukan sekadar memilih antara debu atau pabrik. Yang mereka harapkan adalah lingkungan yang bersih tanpa harus kehilangan pekerjaan dan penghasilan untuk menghidupi keluarga.
