POSKOTA.CO.ID - Sosok Curie Maharani Savitri tengah disorot usai masuk dalam daftar tokoh yang diisukan mengisi posisi Menteri Pertahanan dalam Kabinet Bayangan.
Curie Maharani Savitri termasuk dalam daftar 15 tokoh yang dipercaya mengisi jabatan menteri dalam Kabinet Bayangan.
Ia diisukan menduduki posisi Menteri Pertahanan Bayangan yang bertugas mengawal, mengkritisi, sekaligus memberikan masukan terhadap berbagai kebijakan di sektor pertahanan.
Penunjukan para tokoh tersebut dilakukan melalui proses seleksi yang melibatkan panel independen. Panel ini terdiri atas Zainal Arifin Mochtar, Bivitri Susanti, dan Erry Riyana Hardjapamekas.
Lantas, apa itu kabinet bayangan dan Curie Maharani Savitri sebenarnya lulusan mana? Berikut profil, riwayat pendidikan, dan perjalanan kariernya.
Baca Juga: Bingung Pilih TWS Half In-Ear? Simak 6 Rekomendasi Terbaik 2026 Berikut Ini
Apa Itu Kabinet Bayangan?
Kabinet Bayangan merupakan platform masyarakat sipil yang dibentuk untuk memperkuat fungsi pengawasan terhadap jalannya pemerintahan.
Selain melakukan pengawasan, inisiatif ini juga bertujuan menghasilkan alternatif kebijakan publik yang disusun berdasarkan riset, data, serta kajian akademik.
Konsep tersebut mengadaptasi sistem shadow cabinet yang telah lama diterapkan di sejumlah negara demokrasi, seperti Inggris, Australia, dan Kanada.
Dalam praktiknya, setiap menteri bayangan bertugas mengikuti perkembangan kebijakan kementerian tertentu, kemudian memberikan evaluasi maupun rekomendasi yang konstruktif.
Di Indonesia, pembentukan Kabinet Bayangan dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan mekanisme checks and balances yang dinilai semakin penting di tengah melemahnya fungsi pengawasan parlemen serta terbatasnya peran oposisi formal.
Dengan demikian, keberadaan kabinet ini diharapkan dapat menjadi ruang partisipasi masyarakat sipil dalam mengawal jalannya pemerintahan melalui pendekatan berbasis keilmuan dan bukti.
Baca Juga: Link Live Streaming Persija Jakarta vs PSMS Medan Sore Ini Jam 15.30 WIB, KLIK DI SINI
Curie Maharani Savitri Lulusan Mana?
Curie Maharani Savitri merupakan akademisi yang memiliki spesialisasi pada bidang studi pertahanan dan keamanan.
Saat ini ia dikenal sebagai dosen untuk streaming Studi Keamanan di Universitas Bina Nusantara (Binus).
Selain mengajar di Binus, Curie juga menjadi dosen tidak tetap di Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).
Dia juga aktif sebagai Research Fellow pada National Air and Space Power Institute (NASPCI), sebuah lembaga yang berfokus pada kajian kekuatan udara dan antariksa.
Dalam bidang akademik, Curie menempuh pendidikan doktoral di Cranfield University, Inggris.
Dirinya berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy (PhD) di bidang Pertahanan pada tahun 2016.
Pendidikan tersebut semakin mengukuhkan kompetensinya sebagai salah satu akademisi Indonesia yang memiliki fokus penelitian pada isu-isu strategis sektor pertahanan.
Sebelum bergabung sebagai tenaga pengajar di Universitas Bina Nusantara, Curie Maharani telah memiliki pengalaman profesional di sejumlah lembaga strategis nasional maupun internasional.
Ia pernah terlibat dalam berbagai isu terkait manajemen pertahanan bersama Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN).
Selain itu, Curie juga memiliki pengalaman bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.
Tidak hanya itu, ia juga pernah berkontribusi dalam berbagai kajian bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Pengalamannya turut diperkuat melalui keterlibatan dengan S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), salah satu pusat kajian keamanan dan hubungan internasional yang berbasis di Singapura.
Kemudian, dalam aktivitas akademik dan risetnya, Curie Maharani dikenal sebagai pengamat yang menaruh perhatian pada berbagai isu strategis di sektor pertahanan.
Beberapa bidang yang menjadi fokus kajiannya antara lain akuisisi persenjataan, kebijakan industri pertahanan, mekanisme offset dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), proliferasi teknologi militer, hingga proses pribumisasi teknologi pertahanan.
Rekam jejak Curie Maharani di tingkat internasional juga terlihat dari keterlibatannya dalam Southeast Asian Young Leaders' Programme.
Program bergengsi tersebut merupakan bagian dari penyelenggaraan Shangri-La Dialogue, forum keamanan terbesar di kawasan Asia-Pasifik yang mempertemukan pejabat pemerintah, militer, akademisi, hingga pakar keamanan dari berbagai negara.
Curie terpilih mengikuti program tersebut selama dua tahun berturut-turut, yakni pada 2017 dan 2018.
Kesempatan itu menjadi pengakuan atas kapasitasnya sebagai akademisi muda yang memiliki perhatian terhadap isu pertahanan dan keamanan di kawasan Asia Tenggara.
