Tidak hanya itu, ia juga pernah berkontribusi dalam berbagai kajian bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Pengalamannya turut diperkuat melalui keterlibatan dengan S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), salah satu pusat kajian keamanan dan hubungan internasional yang berbasis di Singapura.
Kemudian, dalam aktivitas akademik dan risetnya, Curie Maharani dikenal sebagai pengamat yang menaruh perhatian pada berbagai isu strategis di sektor pertahanan.
Beberapa bidang yang menjadi fokus kajiannya antara lain akuisisi persenjataan, kebijakan industri pertahanan, mekanisme offset dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), proliferasi teknologi militer, hingga proses pribumisasi teknologi pertahanan.
Rekam jejak Curie Maharani di tingkat internasional juga terlihat dari keterlibatannya dalam Southeast Asian Young Leaders' Programme.
Program bergengsi tersebut merupakan bagian dari penyelenggaraan Shangri-La Dialogue, forum keamanan terbesar di kawasan Asia-Pasifik yang mempertemukan pejabat pemerintah, militer, akademisi, hingga pakar keamanan dari berbagai negara.
Curie terpilih mengikuti program tersebut selama dua tahun berturut-turut, yakni pada 2017 dan 2018.
Kesempatan itu menjadi pengakuan atas kapasitasnya sebagai akademisi muda yang memiliki perhatian terhadap isu pertahanan dan keamanan di kawasan Asia Tenggara.
