PANDEGLANG, POSKOTA.CO.ID - Sejumlah siswa SDN Padahayu 2, Kabupaten Pandeglang, Banten, harus menyeberangi Sungai Cipunten Ageung setiap hari untuk berangkat ke sekolah.
Kondisi tersebut dialami siswa yang tinggal di Kampung Cingenge, Desa Padahayu, Kecamatan Cikedal. Mereka terpaksa mempertaruhkan keselamatan karena belum tersedia jembatan penyeberangan yang layak.
Salah seorang warga sekaligus orang tua siswa, Dianah, mengatakan kondisi itu telah berlangsung setelah jembatan bambu yang sebelumnya digunakan warga rusak dan hanyut terbawa arus sungai.
"Setiap hari seperti ini menyeberangi sungai karena tidak ada jembatan. Dulu ada jembatan bambu, tapi sekarang sudah rusak terbawa arus. Khawatir sudah pasti, tapi mau bagaimana lagi," kata Dianah kepada wartawan, Selasa, 28 Juli 2026.
Baca Juga: 2 Rumah Tidak Layak Huni di Pandeglang Belum Tersentuh Bantuan, Kades Minta Perhatian Pemerintah
Dianah menjelaskan, siswa sebenarnya dapat menggunakan jalur darat lain jika tidak menyeberangi sungai. Namun, jarak yang harus ditempuh menjadi lebih jauh, yakni sekitar tiga kilometer.
"Kalau tidak menyeberang harus memutar, jaraknya sekitar tiga kilometer," ujarnya.
Menurut Dianah, kondisi Sungai Cipunten Ageung masih memungkinkan untuk diseberangi ketika debit air sedang surut. Namun, situasinya berubah saat hujan turun dan arus sungai menjadi deras.
Ketika kondisi tersebut terjadi, anak-anak tidak dapat menyeberang dan terpaksa tidak berangkat sekolah.
Baca Juga: Siap Gelar Konferkab 2026, PWI Pandeglang Bentuk Panitia Pemilihan Ketua Baru
"Kalau musim hujan, debit air sangat deras dan tidak bisa dilewati. Jadi anak-anak tidak bisa sekolah," katanya.
Dianah bersama orang tua siswa lainnya berharap Pemerintah Kabupaten Pandeglang segera membangun jembatan permanen. Keberadaan jembatan dinilai penting agar anak-anak dapat berangkat dan pulang sekolah dengan lebih aman.
"Harapannya segera dibangun jembatan supaya anak-anak bisa berangkat sekolah dengan aman," harapnya.
Baca Juga: LGBT Ancaman Nonmiliter, DPRD Pandeglang Desak Perbup Dibuat
Ketiadaan Jembatan Pengaruhi Jumlah Siswa
Kepala SDN Padahayu 2, Tedi Rustandi, mengatakan persoalan jembatan tidak hanya berkaitan dengan keselamatan siswa, tetapi juga berdampak terhadap jumlah peserta didik di sekolah tersebut.
Menurut Tedi, sebelumnya cukup banyak anak dari kampung yang berada di seberang sungai bersekolah di SDN Padahayu 2. Namun, jumlah tersebut terus menurun sejak jembatan yang menjadi akses penghubung tidak lagi tersedia.
"Dulu murid dari kampung seberang yang sekolah di sini cukup banyak. Namun sejak tidak ada jembatan, jumlahnya terus menurun. Keberadaan jembatan sangat memengaruhi jumlah siswa di sekolah kami," tutur Tedi.
Ia mengatakan sebagian orang tua memilih menyekolahkan anak mereka ke sekolah lain meski jaraknya lebih jauh. Keputusan tersebut diambil karena orang tua khawatir dengan keselamatan anak yang harus menyeberangi sungai setiap hari.
"Masyarakat di sana mengatakan kalau sudah ada jembatan, mereka akan menyekolahkan anak-anaknya ke sini. Namun karena belum ada jembatan, mereka memilih sekolah lain," tambahnya.
Tedi berharap Pemerintah Kabupaten Pandeglang segera merealisasikan pembangunan jembatan yang dapat menjadi akses aman bagi warga, terutama anak-anak yang hendak bersekolah.
"Harapan kami pemerintah daerah segera membangun jembatan agar anak-anak dapat menuntut ilmu dengan aman dan nyaman tanpa rasa khawatir," pungkasnya.
