Harga HP Makin Mahal di 2026, Ini Alasan Banyak Orang Menunda Upgrade

Minggu 26 Jul 2026, 18:35 WIB
Ilustrasi. Alasan banyak orang menunda upgrade hp. (Sumber: freepik)
Ilustrasi. Alasan banyak orang menunda upgrade hp. (Sumber: freepik)

Salah satu penyebab utama naiknya harga smartphone adalah meningkatnya permintaan chip memori seperti DRAM dan NAND Flash.

Ledakan investasi pada pusat data AI (AI Data Center) membuat perusahaan teknologi global berlomba membangun infrastruktur untuk mendukung layanan kecerdasan buatan generatif.

Kondisi tersebut mendorong produsen semikonduktor mengalokasikan kapasitas produksinya untuk membuat memori kelas server, terutama High Bandwidth Memory (HBM), yang menawarkan margin keuntungan jauh lebih tinggi dibanding memori untuk perangkat konsumen.

Akibatnya, pasokan chip memori bagi industri smartphone menjadi lebih terbatas sehingga biaya produksi perangkat meningkat.

Baca Juga: Daftar Harga iPhone Juli 2026 di Indonesia, Seri Baru dan Bekas Lengkap

Biaya Produksi Naik, Konsumen Menanggung Bebannya

Sejumlah laporan industri dari Counterpoint Research dan IDC menunjukkan bahwa kenaikan harga komponen telah mendorong biaya produksi (Bill of Materials/BoM) smartphone meningkat sekitar 10 hingga 25 persen, tergantung kelas perangkat.

Segmen entry-level hingga kelas menengah menjadi yang paling terdampak. Biaya produksi pada kategori tersebut diperkirakan naik sekitar 15–25 persen, sementara margin keuntungan produsen relatif tipis sehingga kenaikan biaya akhirnya diteruskan kepada konsumen melalui harga jual.

Di sisi lain, smartphone flagship juga mengalami peningkatan biaya produksi sekitar 10 persen.

Meski persentasenya terlihat lebih kecil, kenaikan tersebut tetap menghasilkan tambahan harga yang cukup besar karena nilai dasar perangkat premium memang jauh lebih tinggi.

Baca Juga: Harga iPhone 18 Pro Terbaru di Indonesia Dibanderol Berapa? Simak Estimasi untuk Semua Varian

Fenomena Shrinkflation Mulai Terlihat pada Smartphone

Kenaikan harga komponen juga memunculkan fenomena yang kerap disebut sebagai shrinkflation.

Jika sebelumnya konsumen dapat memperoleh smartphone dengan RAM 8 GB dan penyimpanan 256 GB di kisaran harga Rp2 jutaan, kini spesifikasi serupa banyak dijual mendekati Rp4 juta.


Berita Terkait


News Update