"Ada dua toren bantuan dari PMI Depok, tetapi airnya sudah habis. Air bantuan itu tidak sampai bertahan satu minggu," ujarnya.
Sumiyem menuturkan sebagian besar warga di lingkungannya masih mengandalkan sumur jetpump sehingga penggunaan air harus dilakukan secara bergantian.
"Di sini warga masih memakai air jetpump. Jadi kalau ada air harus bergantian atau ditampung terlebih dahulu," ucapnya.
15 KK Terdampak Kekeringan
Ketua RW 15, Arif Afifullah, mengatakan saat ini sedikitnya 15 kepala keluarga (KK) atau sekitar 35 jiwa di RT 01 RW 15 mulai terdampak kekurangan air bersih.
Ia menjelaskan wilayahnya telah menerima bantuan air bersih dari PMI Kota Depok pada 15 Juli dan 20 Juli 2026. Namun, pasokan tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan warga selama beberapa hari.
"Warga mulai mengeluhkan air mengering. Bantuan air bersih dari PMI sudah datang dua kali, tetapi sekarang sudah habis karena dipakai untuk kebutuhan sehari-hari," kata Arif.
Selain PMI, bantuan juga datang dari PDAM Depok. Secara keseluruhan, warga telah menerima sekitar 9.000 liter air bersih.
Meski demikian, bantuan tersebut dinilai belum mencukupi karena kebutuhan air masyarakat cukup tinggi setiap harinya.
Arif mengungkapkan musim kemarau tahun ini membuat sejumlah warga harus mengebor sumur jetpump hingga dua sampai tiga kali lebih dalam demi mendapatkan sumber air.
Berdasarkan laporan yang diterimanya dari warga, tanda-tanda kekeringan mulai meluas hampir di seluruh wilayah RW 15.
"Bantuan air bersih hanya cukup beberapa hari. Kalau kondisi ini terus berlanjut, aktivitas seperti mandi, mencuci, memasak, hingga kebutuhan air minum akan semakin terganggu," ujarnya.
Untuk mengantisipasi krisis air, sebagian warga membeli drum berkapasitas sekitar 150 liter sebagai tempat penampungan air bersih.
