Prabowo Perintahkan TNI, Polri, dan Kepala Daerah Bergerak Tangani Sampah Nasional

Selasa 21 Jul 2026, 23:00 WIB
Presiden Prabowo Subianto didampingi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto meninjau mesin pengolah sampah MOTAH saat menghadiri Panen Raya Terintegrasi Program Ketahanan Pangan di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur. (Sumber: Istimewa)
Presiden Prabowo Subianto didampingi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto meninjau mesin pengolah sampah MOTAH saat menghadiri Panen Raya Terintegrasi Program Ketahanan Pangan di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur. (Sumber: Istimewa)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan TNI, Polri, kementerian, hingga seluruh pemerintah daerah untuk bergerak bersama menangani persoalan sampah di Indonesia. Langkah tersebut menjadi bagian dari target pemerintah mewujudkan Indonesia bersih sebelum 2029.

Instruksi itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Panen Raya Terintegrasi Program Ketahanan Pangan bersama TNI di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Presiden meninjau fasilitas pengolahan sampah menggunakan teknologi MOTAH (Mesin Olah Runtah) yang dikembangkan di lingkungan TNI Angkatan Udara. Prabowo didampingi Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

Teknologi MOTAH merupakan insinerator karya anak bangsa yang mampu mengolah hingga satu ton sampah setiap jam tanpa menggunakan bahan bakar maupun listrik. Abu hasil pembakaran dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan batako dan paving block, sedangkan residu organik diolah menjadi media tanam.

Baca Juga: Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Siapkan Pengamanan di Titik Rawan Begal Bandung Raya

Saat ini sistem MOTAH telah diterapkan di 64 kabupaten dan kota dengan fasilitas pengolahan sampah terpadu berkapasitas hingga 100 ton. Teknologi tersebut mampu membakar sampah basah maupun kering pada suhu mencapai 1.000 derajat Celsius dan telah memenuhi standar uji emisi Kementerian Lingkungan Hidup.

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengatakan seluruh jajaran TNI diperintahkan aktif mendukung penanganan sampah nasional melalui gerakan kebersihan dan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan.

"Langkah ini sejalan dengan instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto yang menyatakan perang terhadap sampah demi mencapai target Indonesia bersih sebelum tahun 2029," ujarnya.

Baca Juga: Trailer Perdana Avengers: Doomsday Diduga Ungkap Teori Three Way Incursion

Prabowo menegaskan pemerintah berkomitmen menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh sesuai target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

Panen Raya Digelar di 43 Titik

Selain membahas penanganan sampah, Presiden juga menyampaikan apresiasi kepada petani dan nelayan yang dinilainya menjadi pahlawan ketahanan pangan nasional.

"Hari ini saya bahagia. Saya bangga jadi Presiden Republik Indonesia. Saya bangga dengan petani-petani Indonesia," kata Prabowo.

Ia juga menyampaikan rasa bangga kepada TNI dan Polri yang ikut mendukung program ketahanan pangan nasional.

Panen Raya TNI Terintegrasi tahun ini digelar serentak di 43 titik di seluruh Indonesia dengan pembagian peran pada tiga matra TNI. TNI Angkatan Udara mendampingi pengembangan tebu, TNI Angkatan Laut fokus pada kedelai, sedangkan TNI Angkatan Darat mendukung peningkatan produksi padi.

Panglima TNI menjelaskan, pendampingan TNI AU bersama Sinergi Gula Nusantara (SGN), perusahaan swasta, dan asosiasi petani mencakup lahan tebu seluas 236.048 hektare dengan potensi produksi mencapai 18,386 juta ton tebu atau setara sekitar 1,36 juta ton gula.

Di Lanud Abdulrachman Saleh sendiri, luas lahan tebu yang dipanen mencapai 800,5 hektare dengan estimasi produksi 72.045 ton.

Sementara itu, TNI AL mendampingi budidaya kedelai di lahan seluas 2.432 hektare dengan produksi sekitar 3.676 ton. Hingga Juni 2026, TNI AL juga telah membuka lahan baru seluas 3.110 hektare yang diproyeksikan menghasilkan 5.287 ton kedelai.

Adapun TNI AD mendampingi panen padi seluas 479.610 hektare selama Juli 2026. Secara kumulatif, pendampingan sejak Januari hingga Juni 2026 telah mencakup 6,26 juta hektare dengan produksi sekitar 19,2 juta ton beras atau sekitar 55,24 persen dari target produksi beras nasional tahun ini.


News Update