Obrolan Warteg: Politik Kepiting yang Bikin Pusing

Senin 13 Jul 2026, 06:00 WIB
Ilustrasi Obrolan Warteg, Senin, 13 Juli 2026. (Sumber: Poskota)
Ilustrasi Obrolan Warteg, Senin, 13 Juli 2026. (Sumber: Poskota)

Oleh :Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID – Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia meminta kader Golkar terus solid menghadapi tahun politik Pemilu 2029. Jangan gunakan politik kepiting dalam membesarkan partai berlambang pohon beringin ini.

Kekompakan dan soliditas adalah yang utama. Nggak ada parpol yang survive di dunia, tanpa kekompakan dan tanpa kesolidan, kata Bahlil pada Munaslub MKGR, di Jakarta, Sabtu, 11 Juli 2026.

“Kalian paham nggak soal politik kepiting?” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

“Kalau kepiting tahu persis, malah kadang suka makan kepiting rebus, enak dan gurih. Ada sensasi kalau disedot. Apakah politik kepiting itu juga penuh dengan sensasi?” ujar Yudi balik bertanya.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Sukses Suami Karena Ada Wanita Hebat di Sampingnya

“Ya, kalau bicara politik itu tentu tak lepas dari sensasi karena politik itu tak lepas dari seni memperoleh kekuasaan, “ jelas Heri.

“Jika ingin memaknai politik kepiting harus memahami terlebih dahulu karakter kepiting itu seperti apa,” kata mas Bro.

“Setahu saya, kepiting itu suka nyapit, karena punya sepasang capit di bagian depan yang digunakan untuk makan, melindungi diri dan berkomunikasi,” ujar Yudi.

“Nah, soal capit itu ada yang unik. Kadang digunakan untuk menyapit rekannya yang mau naik ke atas atau sudah berada di atas agar turun lagi. Temannya naik lagi, diturunin lagi Jadi nurunin temannya yang naik ke atas sepertinya tidak rela temannya naik,” jelas mas Bro.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Wong Tegal Guyub Rukun

“Jadi ada sikap egois ya, boleh jadi persaingan tidak sehat ya,” kata Heri.

“Iya, itulah mungkin yang dimaksud politik kepiting. Ada sikap egois, iri, dan dengki serta terdapat hasrat menjatuhkan temannya yang berada di atas. Jika saya tidak bisa maju, mengapa kalian maju duluan,” tegas mas Bro.  

“Sepertinya lebih senang melihat temannya susah ya. Itu namanya nggak solider, nggak setia kawan. Padahal membangun partai perlu kekompakan dan kesetiakawanan,” kata Yudi.

“Mestinya kalau ada teman sukses, naik ke atas menjadi petinggi atau pejabat, ikut senang. Siapa tahu, nantinya dapat menarik temannya ikut bersama – sama naik ke atas meraih sukses,” kata Heri.


Berita Terkait


News Update