Arti Lirik Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat Apa? Ini Makna Lagu Om Zein yang Tuai Kritik hingga Disomasi

Kamis 02 Jul 2026, 13:11 WIB
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein alias Om Zein tengah viral usai menyanyikan lagu bahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat. (Sumber: Instagram/@omzein_bupatiaing)
Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein alias Om Zein tengah viral usai menyanyikan lagu bahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat. (Sumber: Instagram/@omzein_bupatiaing)

POSKOTA.CO.ID - Polemik lagu bahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat yang dinyanyikan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, alias Om Zein tengah viral di media sosial.

Lagu berbahasa Sunda berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat itu sendiri pertama kali diperkenalkan dalam rangkaian acara Hajat Bumi di Lingga Mukti.

Belakangan, Om Zein mengunggah lagu itu melalui akun TikTok pribadinya pada 18 Januari 2026 sehingga mulai dikenal lebih luas oleh masyarakat.

Sejumlah potongan lirik yang membandingkan pengalaman biologis perempuan dengan kehidupan laki-laki itu pun menjadi sorotan warganet.

Sejumlah pihak menilai isi lagu tersebut berpotensi melanggengkan pandangan yang merendahkan perempuan dan bertentangan dengan semangat kesetaraan gender.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya, pun menyampaikan kritik terbuka melalui akun media sosial pribadinya.

Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Atalia mengaku telah berusaha memahami makna lagu tersebut. Namun, menurutnya, ia tidak menemukan pesan yang menunjukkan penghormatan terhadap perempuan.

"Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," ujar dia.

Dalam pernyataannya, Atalia menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak dapat dipandang hanya sebagai bentuk kebebasan berekspresi atau selera seni semata.

Ia menilai budaya Sunda selama ini menjunjung tinggi nilai-nilai penghormatan terhadap sesama manusia, termasuk perempuan.

"Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.. Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," katanya.


Berita Terkait


News Update