"Kalau hilirnya ditekan terus, kami petani di hulu ekosistem pertembakauan juga terkena dampak. Bagaimana petani bisa optimis menanam sementara rancangan aturannya sangat menekan," tegasnya.
Sebelumnya, Ketua Harian DPN HKTI Prof. Dr. Ir. Andi Muhammad Syakir juga menekankan bahwa sektor perkebunan merupakan salah satu lokomotif ekonomi nasional. Sehingga diperlukan fokus pengembangan masing-masing varian komoditas dari hulu ke hilir.
"Perkebunan adalah jangkar bahkan sekaligus pengungkit ekonomi. Perkebunan pun memberi andil bagi sektor energi. Perkebunan kita mayoritas adalah ekspor, kontribusinya jelas men-drive ekonomi. Banyak jenis komoditas perkebunan, mulai dari kelapa, kopi, kakao, tembakau, vanili, dan lainnya. Pendekatan pengembangannya perlu bertahap, fokus penguatannya satu-satu mulai hulu ke hilir sehingga ke depannya sejalan dengan program pembangunan," ujar Syakir.
Baca Juga: Kementan Bagikan 10 Juta Benih Perkebunan Gratis di Sukabumi
Syakir pun mengingatkan bahwa sektor perkebunan memiliki spektrum luas. Oleh karena itu, sarannya, dalam upaya mengakselerasi bidang hilirisasi bidang perkebunan, perlu dilakukan secara bertahap.
"Komoditas perkebunan memberikan kontribusi besar. Upaya pengembangan hilirisasinya jangan cepat-cepat, jangan tergesa-gesa tapi harus presisi. Pendekatannya harus fokus, per satu-satu jenis komoditas" sebutnya.
Senada, Sekretaris Jenderal Pemuda Tani DPN HKTI Suroyo mengatakan setelah pemerintah berfokus pada swasembada pangan sepanjang 2025, kini saatnya sektor perkebunan menjadi perhatian bersama.
"Saatnya kita fokus pada swasembada perkebunan. Sesuai dengan arahan Presiden Bapak Prabowo Subianto, bahwa komoditas perkebunan ini harus didorong, dikuatkan. Bukan berarti harus selalu impor, tapi bagaimana memastikan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan bahan baku dalam negeri, meningkatkan produktivitas, memperkuat hilirisasi, sekaligus memperbesar ekspor komoditas strategis unggulan," tambah Suroyo.
