Obrolan Warteg: Saling Kirim Pesan Politik

Rabu 24 Jun 2026, 11:43 WIB
Ilustrasi obrolan warteg, Rabu, 24 Juni 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)
Ilustrasi obrolan warteg, Rabu, 24 Juni 2026. (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Oleh : Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID –  Memberi sinyal, mengirim pesan politik hingga saling kritik di antara elite politik adalah hal biasa. itulah demokrasi.

Begitupun ketika pubik saat ini menyaksikan saling kritik di antara petinggi parpol anggota koalisi dengan parpol non koalisi. itu juga bagian dari dinamika demokrasi yang sedang kita bangun.

Seperti diberitakan, petinggi sejumlah parpol anggota koalisi memberi  pesan politik kepada politisi parpol non koalisi agar tidak ambigu dalam menyikapi situasi.

Pihak yang dikirimi pesan pun sudah menjawab, bahwa sikap politiknya sudah jelas. Tidak ambigu, posisinya jelas partainya berada di luar pemerintahan sebagai kekuatan penyeimbang.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Yuk Cetak Generasi Hebat dan Bermartabat

“Kalian sudah paham kan, parpol koalisi dan non koalisi yang dimaksud?,” tanya bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

“Sudah lah, kan lagi menjadi perbincangan. Kita sebagai rakyat cukup menyaksikan dinamika politik yang terjadi, terlebih kritikan yang dilontarkan lebih menyangkut sikap politik parpol,” ujar  Yudi.

“Tak cukup hanya menyaksikan, tetapi ikut menyimak pernyataan politik yang disampaikan,” kata Heri.

“Ya, itu sih terserah kalian. Cukup menyaksikan, apa sekaligus mencermati dan melakukan penilaian atas pernyataan politik mereka sebagai bahan kajian untuk menentukan sikap politik pribadi kalian ke depannya,” jawab Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Stok Beras Aman, Oke! Harga Bagaimana?

“Perbedaan adalah keniscayaan. Beda sikap politik karena beda parpol memang begitu adanya.Tak perlu diperdebatkan, apa yang sedang diperdebatkan. jangan sampai kita sendiri yang malah debat kusir nggak tahu juntrungannya,” urai mas Bro.

“Setuju Bro, tak memperdebatkan apa yang mereka perdebatkan,” kata Yudi

“Tetapi Bro. Jika kita cermati dinamika politik belakangan ini cukup menarik. Kalau sebelumnya terkesan adem ayem, kini mulai menggeliat memperlihatkan jati dirinya,” jelas Heri.

“Kayak pengamat aja kalian,” kata Yudi.

“Boleh dong, sesekali seolah menjadi pengamat politik ala kita sendiri,pandangan politik dari rakyat kecil seperti kita,” jelas Heri.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Tahun Pemberantasan Korupsi

“Jangan sok tahu, paham enggak sikap politik ambigu?” tanya Yudi.

‘Itu sikap yang fleksibel, tidak tegas hitam putih, itu sah-sah saja guna menghindari gesekan,” kata Heri.

“Jangan pula bermain dua kaki,” kata Yudi lagi.

“Loh, kalau tidak bermain di dua kaki, gimana? Kita punya dua kaki , mosok diminta bermain dengan satu kaki, nggak total namanya,” jelas Heri.

“Sudah, sudah nggak usah diteruskan. Dua kaki itu istilah, bukan makna harfiah,” ujar mas Bro meredam situasi.


Berita Terkait


News Update