Menurutnya, buyback dapat menjadi strategi yang efektif untuk mengoptimalkan investasi perusahaan apabila manajemen menilai harga saham sedang berada di bawah nilai wajarnya.
"Buyback itu sebetulnya proses yang normal. Kalau kita melihat saham kita terlalu rendah, tentu pasti kita ambil. Sayang kan daripada investasi di tempat lain, lebih baik kita investasi dengan saham kita sendiri," jelas Dony.
Ia optimistis kepercayaan investor terhadap Indonesia akan terus meningkat seiring terjaganya fundamental ekonomi nasional dan berlanjutnya transformasi di lingkungan BUMN.
"Kalau barang bagus, tentu sayang kalau tidak kita optimalkan," tuturnya.
Sejalan dengan optimisme tersebut, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Nixon LP Napitupulu, menilai pertumbuhan ekonomi yang kuat perlu didukung oleh bergeraknya sektor riil, termasuk industri perumahan yang memiliki efek berganda (multiplier effect) besar terhadap perekonomian nasional.
Nixon mengatakan BTN akan terus mendorong pertumbuhan sektor perumahan melalui berbagai inovasi pembiayaan guna menjaga daya beli dan akses masyarakat terhadap hunian.
"Kita harus bisa menciptakan demand, jangan hanya menunggu market. Karena itu, BTN terus mendorong berbagai strategi supaya sektor perumahan tetap bergerak dan masyarakat tetap memiliki akses untuk membeli rumah," ujar Nixon.
Menurutnya, perseroan tetap optimistis mampu menjaga target pertumbuhan secara prudent di tengah dinamika ekonomi yang berkembang. BTN juga terus memperkuat strategi bisnis melalui ekspansi kredit yang sehat serta pengelolaan kualitas aset.
"Kita masih percaya pertumbuhan bisa tetap dijaga. Segala cara kita pikirkan agar masyarakat tetap bisa memiliki rumah," kata Nixon.
