Kopi Pagi: Kebenaran dan Keadilan

Kamis 04 Jun 2026, 06:52 WIB
Kopi Pagi edisi Kamis, 4 Juni 2026. (Sumber: Poskota)
Kopi Pagi edisi Kamis, 4 Juni 2026. (Sumber: Poskota)

POSKOTA.CO.ID - “Jika mengatakan yang benar sebagaimana adanya saja sulit, apalagi menegakkan kebenaran dan keadilan yang sesungguhnya. Meski begitu, seberat apa pun kesulitan menghadang, kebenaran dan keadilan harus ditegakkan karena itulah perintah undang-undang," kata Harmoko.

Masyarakat adil makmur, yang adil dalam kemakmuran dan makmur yang berkeadilan sebagaimana cita-cita bangsa dan negara dapat terwujud jika kebenaran dan keadilan ditegakkan secara baik dan benar.

Itulah sebabnya ajakan "berani membela kebenaran dan keadilan" sudah terukir sejak negeri ini berdiri, telah secara gamblang dirinci dalam butir-butir pengamalan sila kedua falsafah bangsa kita, Pancasila.

Lantas siapa yang mengamalkannya? Jawabnya kita semua. Negara tentu berkewajiban hadir dan bertanggung jawab secara keseluruhan dalam pelaksanaannya. Dari mulai mengedukasi, memfasilitasi, mengalokasikan anggaran, memberi kewenangan kepada badan/lembaga yang bertanggung jawab untuk menegakkan kebenaran dan keadilan hingga evaluasinya.

Baca Juga: Kopi Pagi : Cepat dan Bijak

Tidak menutup kemungkinan, presiden langsung bertindak melalui kewenangannya, untuk membela kebenaran dan keadilan dengan tidak membiarkan kesalahan terjadi berlarut. Mencopot atau mengganti jabatan kepala lembaga , bagian dari upaya menegakkan kebenaran dan keadilan demi kemakmuran dan keadilan bagi rakyat.

Kita sebagai warga negara, sebagai anak bangsa ikut pula berkewajiban mengamalkan, mulai dari masing-masing individu, keluarga, dan masyarakat secara bersama-sama. Perlu kesungguhan dan keberanian karena kebenaran takkan terungkap jika masyarakat tak berani mengungkapnya atau mendirikannya. Kesalahan akan selamanya tersembunyi, jika saling menutupi.

Kuncinya terletak kepada diri kita masing-masing. Beranikah mengatakan kebenaran yang sesungguhnya meski terasa pahit untuk mengatakannya? Maukah menguak kesalahan meski risiko buruk bakal dihadapi.

Kadang kita tahu persis fakta yang sesungguhnya sebagai sebuah kebenaran, tetapi karena satu dan lain hal, kita tidak berani mengatakannya. Begitu juga kita tahu kesalahan yang dilakukan seseorang, tapi karena satu dan lain hal, terpaksa "berkura-kura di dalam perahu" alias "pura-pura tidak tahu.

Baca Juga: Kopi Pagi: Bersama Tanpa Prasangka dan Curiga

Ini manusiawi, tetapi demi kepentingan yang lebih besar, haruskah senantiasa bersikap menutupi kesalahan yang terjadi? Membiarkan kebenaran dan keadilan semu terus mewarnai sekeliling kita, terlebih dalam lingkaran kekuasaan yang bersentuhan langsung dengan pemenuhan hajat hidup orang banyak.

Jawabnya, tentu saja tidak. Kita semua tidak ingin membiarkan kebenaran dan keadilan semu, terlebih palsu, acap mewarnai kehidupan kita.

Kita semua tentu tidak ingin kebenaran palsu tumbuh subur menebarkan aroma "kebohongan" yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dapat pula menimbulkan rasa saling curiga, salah paham dan menajamnya perselisihan.

Kita pun sering mendengar istilah, pepatah, slogan atau apa pun namanya, yang mengajak kita semua agar bersikap “Katakan yang benar itu benar, dan katakanlah yang salah itu salah”.

Istilah ini mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan, sesulit menegakkan kebenaran itu sendiri. Jika mengatakan yang benar sebagaimana adanya saja sulit, apalagi menegakkan kebenaran dan keadilan yang sesungguhnya, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Meski begitu, seberat apa pun kesulitan menghadang, kebenaran dan keadilan harus ditegakkan karena itulah perintah undang-undang.

Baca Juga: Kopi Pagi: Mari Berbenah Diri

Saudara-saudara kita yang ditakdirkan Allah Swt lahir di tanah Arab punya pepatah, atau mungkin Hadis Nabi Saw, bunyinya: "Qul lilhaq walaw kana murran" (Katakanlah kebenaran, meskipun amat pahit).

Lantas siapa yang tahu persis, mana kebenaran semu dan palsu? Jawabnya diri sendirilah yang mengetahui karena kebenaran yang sejati itu sesungguhnya berada di dalam diri kita, hati kita. Karena kebenaran ada dalam hati, maka untuk menguak kebenaran sejati (yang sesungguhnya) harus pula mengungkap kejujuran.

Itulah sebabnya, para leluhur mengajarkan kepada kita semua agar senantiasa menegakkan kebenaran dengan penuh kejujuran dan kesabaran. Tidak dilakukan secara tergesa-gesa, tidak dengan keraguan, tidak ceroboh, tidak dalam keadaan marah, emosi, tidak pula terprovokasi.

Lebih-lebih jika menegakkan kebenaran dilatar belakangi dengan iri dan kebencian, hasilnya semakin tidak karuan. Tidak akan mencerminkan keadilan. Begitu pun menegakkan kebenaran karena adanya pesanan, sudah dapat diduga akan melahirkan ketidakadilan.

Kita tentu tak ingin ketidakadilan berada di depan mata, terjadi di sekeliling kita, apalagi pada diri kita, keluarga kita.

Kita meyakini tak seorang pun berharap memperoleh ketidakadilan. Telah bersikap tingkah laku benar, tetapi disalahkan,sementara orang lain yang jelas-jelas melanggar hukum, malah dibenarkan.

Tidak ada seorang pun berkehendak yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar.

Mari bersama tegakkan kebenaran dan keadilan sesungguhnya, bukan semu, bukan pula yang palsu. Sekecil apa pun “kebenaran dan keadilan” akan sangat bermakna, ketimbang sama sekali tidak ada.

Sekiranya mampu, lakukanlah dengan perbuatan, jika kurang mampu lakukanlah dengan lisan! Masih tidak mampu juga, lakukanlah dengan hati. (Azisoko)


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Lebaran Politik

undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Peduli Nelayan

undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Politik Tebar Empati

News Update