Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID - Kata safari tak asing lagi bagi kita semua, bahkan baju ‘safari’ banyak digemari, acap dipakai pada acara- acara resmi para pejabat dari level nasional hingga daerah.
Dulu, para menteri dan pejabat tinggi, berkantor dengan berpakaian safari. Kita tahu baju safari adalah model jas berlengan pendek, bersaku empat, dibuat dari bahan yang tebal seperti katun atau dril. Tak heran, jika baju safari sering dianggap sebagai pakaian resmi.
“Itu soal baju, safari juga punya makna lain. Kalian tahu nggak?” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Bukan cuma tahu, belakangan lagi ramai dibahas soal safari politik, utamanya rencana safari politik Jokowi keliling Indonesia,” ujar Yudi.
‘Sah-sah saja, tak ada larangan bagi seseorang, terlebih tokoh untuk melakukan safari politik,” ucap Heri.
“Safari politik bukan yang baru dan tabu. Sejak dulu, safari politik rutin dilakukan para pejabat dan petinggi parpol dengan tujuan dan muatan politik tertentu,” tutur mas Bro.
“Yang jelas, safari politik itu tak lepas dari pencitraan diri atau parpol yang diwakilinya kepada publik,” beber Heri.
“Tujuannya membangun popularitas menuju elektabilitas.Bisa juga bagi dirinya atau partainya. Bisa juga mengenalkan tokoh yang bakal muncul dalam pemilu mendatang, sebut saja pengenalan calon pemimpin bangsa,” sebut Yudi.
“Boleh jadi, di dalamnya terdapat janji – janji politik, meski bukan masa kampanye. Janji partainya akan memperjuangkan aspirasi rakyat, bisa juga janji bahwa kandidat yang diperkenalkan adalah berkualitas, mumpuni dan akan melakukan pengabdian terbaiknya kepada rakyat,” urai mas Bro.
“Soal hasil safari, bagaimana?” tanya Yudi.
“Soal hasil safari, itu soal lain Semuanya akan tergantung dari bagaimana yang melakukan safari dan respons publik,” kata Heri.
“Temanya bagus, tetapi jika rakyat menganggap biasa- biasa saja, hasilnya tidak akan signifikan,” ungkap mas Bro.
“Sebaliknya temanya sederhana, biasa-biasa saja, malah penuh dengan canda tawa, boleh jadi rakyat terpesona,” kata Heri.
“Safari politik yang dikemas dengan keluar masuk kampung,dialog dan tatap muka dengan beragam kalangan masyarakat, karakter figur sangat menentukan dalam membangun komunikasi intens dan interaktif. Rakyat senang dan mengenang, pertanda safari politik membuahkan hasil,” urai mas Bro.
“Intinya safari politik itu untuk menguji respons publik, senang dan tidak senang, suka dan tidak suka, simpati atau malah antipati,” ujar Heri.
“Kalau kelar pertemuan banyak yang ngedumel pertana publik kurang merespons, sebaliknya jika wajah ceria, banyak canda dan tawa, indikasi masyarakat suka,” kata Yudi.
