Kopi Pagi: Subsidi Silang Kian Dibutuhkan

Kamis 28 Mei 2026, 06:51 WIB
Kopi Pagi edisi Kamis, 28 Mei 2026. (Sumber: Poskota)
Kopi Pagi edisi Kamis, 28 Mei 2026. (Sumber: Poskota)

Kini, kita kenal subsidi perumahan, pendidikan dan kesehatan serta masih banyak jenis subsidi lainnya. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) itu bagian dari subsidi negara kepada rakyatnya dalam upaya menyiapkan generasi sehat dan berkualitas.

Bahwa apakah pola subsidi dimaksud yang menyedot anggaran ratusan triliun rupiah setiap tahunnya, sudah tepat sasaran seperti sering diperdebatkan, itu sisi lain dari sebuah proses demokrasi yang memerlukan check and balance.

Kritik dan masukan sebagai bentuk bentuk kepedulian agar kebijakan yang digulirkan menjadi lebih baik lagi. Lebih tepat sasaran, lebih bermanfaat bagi, lebih pula mempercepat terwujudnya kemakmuran rakyat sebagaimana cita-cita sejak negeri kita merdeka.

Yang hendak saya sampaikan subsidi silang bukan hal yang baru, sudah ada sejak dulu, bahkan sebelum negeri ini berdiri.Subsidi silang akan selalu dibutuhkan selama masih ada kesenjangan. Sementara kita tahu, kesenjangan akan selalu mewarnai kehidupan karena itulah fitrah manusia yang diciptakan tidak semuanya sama rata. Perbedaan, termasuk dalam status sosial ekonomi adalah keniscayaan.

Yang utama, bagaimana kesenjangan tidak semakin dalam dan meluas karena bisa menjadi embrio disintegrasi sosial. Yang perlu adalah menjaga agar kekayaan dan aset negara serta sumber daya alam, tidak didominir oleh segelintir orang.

Baca Juga: Kopi Pagi: Mari Berbenah Diri

Di sisi lain, sejatinya subsidi silang cermin ajaran agama agar kita menyisihkan sebagian rezekinya kepada mereka yang membutuhkan bantuan.

Ketentuan zakat dan sedekah itu bagian dari mengimplementasikan ajaran agama. Akan lebih mulia, jika tangan kanan kita selalu di atas, tetapi tangan kiri sebaiknya tidak mengetahui.

"Sak Apik-apike Wong Yen Aweh Pitulung Kanthi Cara Dedhemitan” - sebaik-baik manusia adalah orang yang memberi pertolongan secara sembunyi-sembunyi. Itulah filosofi berbahasa Jawa yang patut menjadi rujukan.

Makna yang dapat kita petik, kegiatan saling berbagi harus diawali dengan niat suci, tulus dan ikhlas. Bukan membantu karena ada tujuan tertentu, dipertontonkan untuk pencitraan, terlebih berbagi karena ingin beradu gengsi meraih simpati publik.

Gemar membantu dan memberi pertolongan telah menjadi akar budaya bangsa yang kemudian dikristalkan dalam butir-butir pengamalan Pancasila, oleh para pendiri bangsa. Bukankah dikatakan, Pancasila digali dari mutiara terdalam akar budaya bangsa.

Ini yang perlu kita rawat, jaga dan kembangkan melalui aksi nyata, bukan sebatas slogan dan retorika, seperti dikatakan Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Lebaran Politik

undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Peduli Nelayan

undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Politik Tebar Empati

News Update