POSKOTA.CO.ID - Tokoh perempuan adat dari Suku Marind-Anim di Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend tengah menjadi perhatian publik.
Sosok yang akrab disapa Mama Sinta itu mengaku kecewa setelah dirinya muncul dalam film dokumenter berjudul Pesta Babi tanpa penjelasan maupun izin resmi.
Pengakuan tersebut memicu perbincangan luas di media sosial dan kalangan pegiat hak masyarakat adat. Mama Sinta menilai identitas serta keterlibatannya dalam film digunakan tanpa persetujuan yang jelas sejak awal proses produksi.
“Saya kaget, ditampilkan saya di film. Apa saya boneka atau ukiran Asmat, ditampilkan tanpa sepengetahuan saya dan izin saya. Saya kecewa sekali,” ungkapnya.
Baca Juga: Rembo Nata Siapa dan Asal Mana? Ini Profil Aspri Guyon Waton yang Terseret Dugaan Penggelapan
Klaim Dijebak dalam Produksi Film Pesta Babi

Mama Sinta menyebut dirinya tidak pernah mendapatkan penjelasan rinci mengenai tujuan penggunaan dokumentasi maupun keterlibatannya dalam film tersebut.
Ia merasa keberadaannya hanya dijadikan bagian visual tanpa komunikasi yang terbuka.
Pernyataan itu kemudian memunculkan sorotan terhadap pentingnya etika dalam produksi film dokumenter, terutama yang berkaitan dengan masyarakat adat dan isu sosial di Papua.
Kasus ini juga menimbulkan diskusi mengenai perlindungan hak individu serta persetujuan narasumber dalam proses pembuatan karya audiovisual.
Profil Yasinta Moiwend alias Mama Sinta
Yasinta Moiwend dikenal luas sebagai perempuan adat sekaligus pejuang lingkungan dari Suku Marind-Anim di Merauke, Papua Selatan.
