Imbas Rupiah Melemah, Pedagang Perabot di Pasar Jatinegara Keluhkan Omzet Turun 50 Persen

Jumat 22 Mei 2026, 17:43 WIB
Salah satu karyawan perabotan Toko Sendi Makmur saat melayani pelanggan yang akan membeli barang dagangannya, Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

Salah satu karyawan perabotan Toko Sendi Makmur saat melayani pelanggan yang akan membeli barang dagangannya, Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: Poskota/M. Tegar Jihad)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai berdampak pada kenaikan harga perabotan rumah tangga di pasar tradisional. Sejumlah pedagang mengaku harga barang impor dan bahan baku mengalami lonjakan dalam beberapa pekan terakhir.

Kondisi tersebut dirasakan Ari Indriyani, 35 tahun, pemilik Toko Sendi Makmur di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur. Ia menyebut hampir seluruh perabot rumah tangga yang dijual mengalami kenaikan harga hingga 20 persen akibat pasokan dari distributor yang ikut naik.

Di tengah deretan ember plastik, panci stainless, gelas, hingga rak-rak berisi piring dan mangkok, Ari hanya bisa menunggu pembeli datang sambil berbincang dengan para karyawannya. Meski tetap ramah melayani pengunjung, sebagian besar calon pembeli hanya melihat-lihat tanpa melakukan transaksi.

“Ya semua naik. Gelas, piring, terus mangkok, panci, ember,” ujar Ari saat ditemui Poskota, Jumat, 22 Mei 2026.

Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Level Terburuk, Pengusaha Khawatir Gelombang PHK Terjadi

Harga Perabot Rumah Tangga Naik hingga 20 Persen

Menurut Ari, kenaikan harga mulai terasa sejak dua minggu terakhir. Distributor dan sales disebut sudah lebih dulu menaikkan harga pasokan barang ke pedagang pasar.

“Dua mingguan, keseluruhan naik 20 persen itu semua barang,” katanya.

Barang berbahan plastik menjadi salah satu produk yang paling terdampak. Ari mencontohkan harga ember dan gayung yang sebelumnya dijual Rp10 ribu kini naik menjadi Rp15 ribu per buah.

“Ini barang-barang plastik, ember, gayung. Dari harga Rp10 ribu kenaikan jadi Rp15 ribu,” ujarnya.

Baca Juga: Purbaya Optimistis Ekonomi RI Tetap Solid, Rupiah Lebih Kuat dari Negara Tetangga

Ia menegaskan kenaikan harga bukan berasal dari pedagang eceran, melainkan sudah terjadi sejak tingkat distributor.

“Iyalah, langsung dari distributor, dari sales-sales naik semua,” ucap Ari.

Selama ini, Ari mengambil pasokan barang dari kawasan Jembatan Lima, Jakarta Barat. Namun menurutnya, hampir seluruh jalur distribusi kini menaikkan harga.

“Ada di Jembatan Lima, kadang ke sana. Kadang ada sales masuk, titip barang. Ada juga langsung dari distributor, sama naik,” katanya.

Kenaikan harga membuat banyak pelanggan mengeluh. Ari mengatakan sebagian pembeli mengira pedagang sengaja menaikkan harga demi mengambil keuntungan lebih besar.

“Ya pasti ada keluhan. Disangkanya dinaik-naikin sendiri, padahal dari sananya emang ada kenaikan,” keluhnya.

Di tokonya, harga perabot rumah tangga dijual bervariasi. Barang termurah seperti gelas dan asbak dibanderol mulai Rp5 ribu, sedangkan panci stainless dan satu lusin piring bisa mencapai Rp130 ribu hingga Rp400 ribu tergantung ukuran dan bahan.

“Yang paling murah Rp5 ribu gelas, asbak. Kalau yang paling mahal ya panci stainless, aluminium, sampai Rp400 ribu yang paling gede,” ujarnya.

Omzet Pedagang Turun Drastis

Tidak hanya harga barang yang naik, Ari juga mengaku omzet penjualannya turun drastis hingga 50 persen dibanding kondisi normal.

Bahkan sejak pagi hingga siang hari, belum ada satu pun pembeli yang melakukan transaksi di tokonya.

“Iya, turun drastis. Ini aja dari pagi belum ada yang beli. Gimana enggak sedih,” katanya.

Sebelum kondisi ekonomi memburuk, omzet tokonya dapat mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan. Produk yang paling banyak dicari pembeli biasanya sendok, gelas, dan panci.

Namun kini aktivitas pasar disebut jauh lebih sepi dibanding sebelumnya.

“Saat ini enggak ada pergerakan. Enggak ada penjualan, lesu aja. Enggak ada pemasukan,” ucap Ari.

Menurutnya, pelemahan kurs rupiah dan situasi global turut memengaruhi kenaikan harga barang rumah tangga.

“Iya, kurs rupiah yang menurun. Dampak perang juga. Makanya terdampaklah,” katanya.

Selain kenaikan harga, Ari juga menghadapi perubahan perilaku konsumen yang mulai beralih ke platform belanja online. Kondisi itu membuat pedagang pasar tradisional semakin sulit bersaing.

“Ada sebagian yang milih online. Pengaruh banget itu online,” ujarnya.

Ia mengaku sebenarnya ingin ikut berjualan secara daring. Namun, menurutnya, pedagang kecil sulit bersaing karena distributor dan grosir juga menjual langsung barang mereka melalui platform digital dengan harga lebih murah.

“Pengin kalau bisa mah, cuman kitanya enggak bisa bersaing. Kita belanja di grosir, grosirnya jual online sendiri. Jadi tetep kita harganya kalah,” katanya.

Ari diketahui sudah berjualan di Pasar Jatinegara sejak 2009. Dalam satu bulan terakhir, ia merasakan penurunan jumlah pembeli yang cukup signifikan.

“Pembeli enggak ada, jarang. Laku satu, kadang enggak, kadang dua, kadang tiga,” ujarnya.

Bahkan dalam satu bulan, jumlah transaksi diperkirakan hanya sekitar 10 kali dengan nominal belanja relatif kecil.

“Sebulan ya ada sih 10 mah ada. Cuman kadang orang belanja cuma Rp20 ribu, kadang Rp50 ribu,” katanya.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, Ari berharap pemerintah dapat segera mengendalikan harga barang agar aktivitas pasar kembali normal.

“Semoga segera distabilkanlah, biar harga-harganya bisa jual, bisa kayak dulu lagi normal. Biar enggak sedih terus,” ungkapnya. (cr-4)


Berita Terkait


News Update