“Saat ini enggak ada pergerakan. Enggak ada penjualan, lesu aja. Enggak ada pemasukan,” ucap Ari.
Menurutnya, pelemahan kurs rupiah dan situasi global turut memengaruhi kenaikan harga barang rumah tangga.
“Iya, kurs rupiah yang menurun. Dampak perang juga. Makanya terdampaklah,” katanya.
Selain kenaikan harga, Ari juga menghadapi perubahan perilaku konsumen yang mulai beralih ke platform belanja online. Kondisi itu membuat pedagang pasar tradisional semakin sulit bersaing.
“Ada sebagian yang milih online. Pengaruh banget itu online,” ujarnya.
Ia mengaku sebenarnya ingin ikut berjualan secara daring. Namun, menurutnya, pedagang kecil sulit bersaing karena distributor dan grosir juga menjual langsung barang mereka melalui platform digital dengan harga lebih murah.
“Pengin kalau bisa mah, cuman kitanya enggak bisa bersaing. Kita belanja di grosir, grosirnya jual online sendiri. Jadi tetep kita harganya kalah,” katanya.
Ari diketahui sudah berjualan di Pasar Jatinegara sejak 2009. Dalam satu bulan terakhir, ia merasakan penurunan jumlah pembeli yang cukup signifikan.
“Pembeli enggak ada, jarang. Laku satu, kadang enggak, kadang dua, kadang tiga,” ujarnya.
Bahkan dalam satu bulan, jumlah transaksi diperkirakan hanya sekitar 10 kali dengan nominal belanja relatif kecil.
“Sebulan ya ada sih 10 mah ada. Cuman kadang orang belanja cuma Rp20 ribu, kadang Rp50 ribu,” katanya.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, Ari berharap pemerintah dapat segera mengendalikan harga barang agar aktivitas pasar kembali normal.
