POSKOTA.CO.ID - Musim haji 2026 kembali berlangsung dengan total keberangkatan mencapai 221.000 jemaah asal Indonesia. Namun di balik angka tersebut, tersimpan antrean panjang yang mencapai jutaan orang di seluruh negeri.
Data dari Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan bahwa jumlah tersebut hanya sebagian kecil dari lebih dari lima juta calon jemaah yang saat ini masih menunggu giliran.
Masa Tunggu Capai Puluhan Tahun
Lamanya antrean menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan ibadah haji di Indonesia. Berdasarkan data per Desember 2024, waktu tunggu keberangkatan bervariasi di setiap daerah.
Di Sulawesi Selatan, masa tunggu tercatat paling panjang hingga 48 tahun. Sementara di Jawa Timur, jumlah antrean mencapai lebih dari 1,1 juta orang dengan estimasi waktu tunggu sekitar 34 tahun.
Untuk wilayah Jawa Barat, masa tunggu berada di kisaran 30 tahun, sedangkan di Jakarta mencapai sekitar 28 tahun.
Kondisi ini membuat seseorang yang mendaftar di usia 30 tahun berpotensi baru berangkat saat mendekati usia 60 tahun, tergantung wilayah domisili.
Baca Juga: Wamenhaj Tegaskan Petugas Haji Wajib Fokus Melayani Jamaah, Bukan Nebeng Berhaji
Perencanaan Sering Terlambat
Group Managing Director dan CEO Muslim Pro, Nafees Khundker, menilai masih banyak masyarakat yang keliru dalam menentukan waktu ideal untuk mulai merencanakan ibadah haji.
"Padahal, dalam situasi antrean saat ini, justru langkah awal yang lebih cepat menjadi kunci. Setiap tahun penundaan berarti tambahan waktu tunggu yang sudah panjang," ujarnya.
Menurutnya, perencanaan haji masih sering dianggap sebagai sesuatu yang dilakukan setelah kondisi finansial benar-benar stabil, padahal situasi saat ini menuntut langkah lebih dini.
Pola Lama Mulai Ditinggalkan
Selama ini, ibadah haji kerap dipandang sebagai puncak perjalanan hidup yang dilakukan di usia matang. Namun, dengan kuota tetap di angka 221.000 per tahun, pendekatan tersebut mulai dianggap tidak relevan.
