Kini, menurutnya, tanpa mengikuti program, penghasilan bahkan sulit menembus Rp100.000 meski bekerja hingga larut malam. Data penghasilan yang ia tunjukkan juga memperlihatkan fluktuasi yang tidak menentu, mulai dari Rp352.000 dalam sepekan terakhir, hingga kisaran Rp460.000–Rp500.000 pada minggu-minggu sebelumnya.
“Seminggu Rp300 ribuan, cukup nggak buat keluarga? Nggak nentu, kadang lebih kecil lagi,” ucapnya.
Riki bahkan mengusulkan agar pengelolaan transportasi online dapat diambil alih oleh pemerintah demi menciptakan keadilan bagi para driver.
“Kalau bisa pemerintah ambil alih aja. Biar lebih adil. Sekarang aplikator terlalu kejam,” ujar Riki.
Hal serupa disampaikan Chandra 37 tahun, driver ojol yang bergabung sejak 2018 dan juga telah berkeluarga. Ia menilai sistem program seperti langganan gacor semakin menekan pendapatan driver.
“Kalau kita ikut langganan gacor, lebih dari 10 trip itu dipotong Rp20.000. Tapi kalau nggak ikut, orderan anyep. Jadi mau nggak mau harus ikut,” kata Chandra.
Menurutnya, skema tersebut membuat pendapatan tidak menentu. Bahkan, dalam kondisi tertentu, penghasilan harian sangat jauh dari kata layak.
“Saya pernah 12 jam narik cuma dapat Rp65.000. Kadang malah cuma Rp20.000 seharian. Itu buat makan sama ngopi aja nggak cukup,” ujar Chandra.
Chandra juga membandingkan kondisi saat ini dengan masa awal dirinya menjadi driver. Ia menyebut, dulu sistem lebih sederhana dan adil karena tidak banyak program tambahan.
“Kalau dulu semua sama, nggak ada slot atau program macam-macam. Order dibagi rata. Lagi sepi pun masih bisa dapat Rp150.000 sehari,” katanya.
Selain itu, ia juga menyoroti pembagian bonus hari raya (BHR) yang dinilai tidak merata antar driver.
