Oleh :Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID – Wacana meenyatukan kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak dan Cianjur atau disebut Jabodetabekpunjur kembali mencuat.
Seperti diberitakan, Wakil Mendagri, Bima Arya Sugiarto mengaku telah melakukan pembahasan konsep tersebut bersama Bupati Tangerang, Moch Maesyal Rasyid, di Tangerang, Rabu, 29 April 2026. Menurut Bima, konsep aglomerasi tersebut merupakan prospek masa depan.
Diketahui, aglomerasi adalah konsep penyatuan atau pengelompokan wilayah yang didasarkan karena adanya kepentingan bersama seperti menggabungkan moda transportasi, aktivitas sosial dan ekonomi.
Di Jabodetabek, sudah kita kenal penyatuan moda transportasi seperti Transjakarta yang melintasi kawasan Jabodetabek. Begitu juga kereta rel listrik dan masih banyak lagi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Penataan Kembali Gerbong Perempuan
“Konsep Jabodetabekpunjur, sebenarnya sudah lama diwacanakan. Bahkan, sepuluh tahun lalu sempat mencuat perlunya gubernur yang membawahi wilayah tersebut,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Dapat dipahami dengan satu gubernur, maka pelaksanaan pembangunan di kawasan tersebut akan lebih mudah,” tambah Yudi.
“Dengan konsep seperti Jabodetabek yang dilakukan sekarang, sifatnya hanya koordinasi dan sinkronisasi kebijakan. Mengingat kewenangan sebagai pengambil kebijakan, tetap berada di masing – masing daerah baik kabupaten/kota maupun provinsi,” jelas mas Bro.
“Tak acap terjadi tarik menarik kepentingan daerahnya. Ini wajar saja, mengingat kebutuhan daerahnya wajib menjadi prioritas pembangunan. Selain itu yang lebih memahami kebutuhan masyarakat adalah kepala daerahnya sendiri,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Tak Lagi Cash And Carry
“Wajar saja, jika keterpaduan kebijakan yang selama ini dapat dijalankan menyangkut transportasi publik, sementara sektor lain seperti masalah sampah, lingkungan dan energi masih belum terkoordinasi dengan baik,” jelas mas Bro.
“Iya juga. Masalah sampah Jakarta hanya dikerjasamakan dengan Kota Bekasi, belum dalam konsep Jabodetabek, terlebih Jabodetabekpunjur,” kata Yudi.
“Karenanya, ke depan aglomerasi Jabodetabekpunjur adalah tuntutan keadaan. Jika dikatakan prospek masa depan tidaklah berlebihan agar wilayah tersebut terkoneksi dengan baik. Tak hanya soal mengatasi macet dan masalah banjir, juga persoalan sampah, lingkungan, energi, pangan dan air bersih,” urai mas Bro.
“Hanya aglomerasi dapat terkoneksi dan berkolaborasi, jika masing – masing tidak saling intervensi.Kebijakan harus tersinkronisasi untuk kepentingan aglomerasi, tetapi soal otonomi menjadi kebijakan tersendiri,” kata Heri.
“Lain lagi, jika aglomerasi mempunyai gubernur tersendiri,” ujar Yudi mengakhiri obrolan warteg hari ini.
