Cara Dapat Tiket Film Dilan ITB 1997 Cuma Rp1.997, Begini Syarat dan Jadwalnya

Kamis 30 Apr 2026, 14:47 WIB
Ariel Noah memerankan sosok Dilan dalam film “Dilan ITB 1997” yang tayang mulai 30 April 2026 di bioskop seluruh Indonesia. (Sumber: Instagram)

Ariel Noah memerankan sosok Dilan dalam film “Dilan ITB 1997” yang tayang mulai 30 April 2026 di bioskop seluruh Indonesia. (Sumber: Instagram)

POSKOTA.CO.ID - Film Dilan ITB 1997 resmi dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 30 April 2026. Menjelang penayangannya, trailer film tersebut ramai beredar di media sosial sejak awal April dan langsung memantik perhatian penggemar serial Dilan.

Dalam trailer berdurasi singkat itu, penonton diperlihatkan sosok Dilan yang kini lebih dewasa. Karakter yang diperankan Ariel Noah tampak membonceng Ancika menggunakan motor CB-100 Gelatik miliknya. Ada pula adegan yang cukup emosional ketika Dilan bertemu kembali dengan mantan kekasihnya, Milea, di sebuah kafe.

Berbeda dari kisah-kisah sebelumnya yang lebih lekat dengan nuansa cinta remaja SMA, film kali ini membawa penonton memasuki fase baru kehidupan Dilan sebagai mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB).

Baca Juga: Jadwal Demo Buruh 1 Mei 2026 Besok, Cek Lokasi May Day di Jakarta

Rumah produksi Falcon Pictures pun melakukan berbagai strategi promosi untuk mendekatkan film tersebut dengan penggemar. Pada 22 April 2026, para pemeran melakukan touring motor dari Jakarta menuju Bandung bersama sejumlah komunitas otomotif.

Keesokan harinya, konser bertajuk “Dilan ITB 1997: In Resonantia Progressio” digelar di Lapangan Sabuga, Bandung. Namun dari seluruh rangkaian promosi, yang paling menyita perhatian publik adalah penjualan tiket spesial seharga Rp1.997.

Produser Falcon Pictures, Frederica, mengatakan harga khusus tersebut berlaku untuk penayangan terbatas pada 29 April 2026 di sejumlah bioskop Bandung.

“Angka 1997 dipilih karena menjadi simbol tahun yang sangat melekat dengan perjalanan Dilan menuju dewasa,” ujarnya.

Menurut Frederica, tahun 1997 bukan hanya menjadi latar waktu cerita, tetapi juga merepresentasikan masa penuh kenangan, percintaan, dan dinamika kehidupan mahasiswa di tengah situasi sosial-politik Indonesia yang sedang memanas.

Tiket spesial tersebut mulai dijual sejak 23 April 2026 dan langsung menjadi buruan penggemar.

Ariel pun mengaku antusias dengan program tiket murah tersebut. Ia berharap penonton Bandung bisa ikut merasakan nostalgia dunia Dilan di layar lebar.

“Harga tiket cuma Rp1.997 di bioskop-bioskop Bandung. Sampai ketemu semuanya, jangan sampai kehabisan,” kata Ariel.

Kisah Dilan yang Lebih Matang dan Dekat dengan Realitas Sosial

Film ini kembali disutradarai Fajar Bustomi yang sebelumnya sukses menggarap sejumlah film dalam semesta Dilan. Sementara penulis novelnya, Pidi Baiq, juga terlibat langsung dalam pengembangan cerita.

Secara garis besar, “Dilan ITB 1997” berfokus pada hubungan Dilan dan Ancika yang kini sama-sama berstatus mahasiswa. Dilan kuliah di ITB, sedangkan Ancika menempuh pendidikan di Universitas Padjadjaran (Unpad).

Hubungan keduanya berjalan harmonis hingga masa lalu Dilan kembali muncul lewat telepon dari Milea. Pertemuan Dilan dan Milea kemudian menjadi salah satu konflik emosional yang membangun cerita.

Namun yang menarik, film ini tidak hanya mengandalkan drama percintaan. Latar tahun 1997 membuat kisah Dilan bersinggungan dengan situasi Indonesia menjelang Reformasi 1998. Nuansa demonstrasi mahasiswa dan kondisi politik nasional turut menjadi bagian penting dalam alur cerita.

Pendekatan ini membuat “Dilan ITB 1997” terasa lebih dewasa dibanding film-film sebelumnya.

Baca Juga: Gaji PNS Tetap Cair Saat Libur 1-3 Mei 2026? Ini Penjelasan Resmi dan Jadwal Pencairannya

Novel “Dilan ITB 1997” Angkat Sisi Reflektif Kehidupan Dilan

Versi novel yang terbit pada Desember 2025 disebut menghadirkan cerita lebih detail tentang kehidupan Dilan sebagai mahasiswa semester akhir FSRD ITB.

Dalam novel itu, Dilan diceritakan baru kembali dari Kuba setelah mengikuti program pertukaran mahasiswa. Ia merindukan keluarga, Indonesia, dan Ancika di tengah situasi negara yang sedang tidak stabil.

Meski tema cerita lebih berat, gaya bertutur khas Pidi Baiq tetap dipertahankan lewat dialog ringan, humor satir, hingga candaan khas mahasiswa Bandung era 1990-an.

Salah satu dialog yang banyak dibicarakan pembaca adalah percakapan Dilan dan Ancika soal rivalitas bercanda antara mahasiswa ITB dan Unpad.

“Kalau ITB menikah sama Unpad, anaknya apa?”

“UI.”

“Kok, UI?”

“Kan singkatan Unpad-ITB.”

Selain soal cinta, novel dan film ini juga memperlihatkan bagaimana Dilan perlahan meninggalkan masa lalunya sebagai anak geng motor. Sosoknya kini lebih fokus pada kuliah dan pekerjaan freelance sebagai desainer.

Motor CB-100 Gelatik yang selalu menemani perjalanan cintanya pun menjadi simbol penting dalam cerita mulai dari masa bersama Milea hingga perjalanan dewasanya bersama Ancika.

Pada akhirnya, “Dilan ITB 1997” bukan sekadar kisah nostalgia remaja, melainkan potret tentang seseorang yang sedang belajar memahami cinta, kehilangan, dan arah hidupnya di tengah perubahan zaman.


Berita Terkait


News Update