Kafe Tanpa Suara yang Memberdayakan Penyandang Disabilitas di Blok M

Minggu 19 Apr 2026, 18:59 WIB
Suasana di Sunyi Coffee di Jalan Barito I No.31, Kramat Pela, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Sumber: Poskota/Ali Mansur)

Suasana di Sunyi Coffee di Jalan Barito I No.31, Kramat Pela, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Sumber: Poskota/Ali Mansur)

KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Menjelang matahari terbenam, suasana di Sunyi Coffee, terasa hangat dengan cahaya matahari yang menembus kaca jendela. Aktivitas berjalan tanpa suara, hanya terdengar samar suara mesin kopi yang sesekali bekerja. Sesuai namanya, sunyi bukan karena dilarang menggosip tapi menghargai para pekerja kafe yang semuanya adalah penyandang disabilitas (tunarungu, tuli, dan lainnya).

Beberapa pengunjung mengantri untuk memesan segelas kopi maupun makanan, tidak ada percakapan tapi menggunakan bahasa isyarat. Berapa di antara mereka tampak memperhatikan papan panduan bahasa isyarat sebelum memesan. Interaksi yang terjadi terlihat lebih lambat, tetapi justru menghadirkan ketenangan yang jarang ditemui di kafe pada umumnya.

Di balik meja bar, para barista bergerak lincah meracik pesanan dengan komunikasi non-verbal yang terlatih. Senyum dan gestur tangan menjadi bahasa utama yang menghubungkan mereka dengan pelanggan. Tanpa percakapan riuh, suasana siang itu terasa intim dan hangat, seolah setiap orang yang datang ikut larut dalam cara baru memahami makna komunikasi.

"Saya tidak bisa bahasa isyarat (Bahasa Isyarat Indonesia atau Bisindo) tapi pake bahasa telunjuk saja, yang penting pesanan sesuai dan senang ada kafe yang memperdayakan disabilitas," ujar James Manullang, salah satu pelanggan Sunyi Coffee.

Baca Juga: Kenaikan BBM Non Subsidi Picu Kekhawatiran Harga Bahan Pokok Naik di Jakarta

Tempat nongkrong kekinian tersebut terletak di wilayah Blok M, tadi jauh dari Taman Ayodia yang sekarang berganti nama menjadi Taman Bendera Pusaka per Maret 2026 ini.

Sunyi menghadirkan konsep berbeda dibanding kafe pada umumnya. Sunyi memberdayakan penyandang disabilitas tunarungu atau tuli sebagai barista, koki, dan pelayan. Bahkan beberapa pengunjung juga merupakan penyandang disabilitas.

Suasana di Sunyi Coffee di Jalan Barito I No.31, Kramat Pela, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Sumber: Poskota/Ali Mansur)

Begitu memasuki kafe, pengunjung tidak akan disambut dengan sapaan verbal, seperti ‘selamat pagi kakak’, ‘selamat datang kakak,’ dan lainnya. Sebagai gantinya, tersedia panduan bahasa isyarat sederhana serta instruksi pemesanan yang membantu pelanggan berinteraksi. Sepertinya, semua orang yang mampir di kafe ini sudah maklum dan justru sangat senang.

“Datang ke sini bukan hanya untuk menikmati suasana yang tenang, tapi juga sebagai bentuk dukungan saya kepada teman-teman penyandang disabilitas. Kafe seperti ini seharusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah," beber pria asal Kota Medan tersebut.

Baca Juga: Dampak Kenaikan BBM Non Subsidi, Ekonom Sebut Picu Inflasi hingga Tekan Daya Beli Masyarakat

James mengaku pada saat pertama kali datang ke Sunyi, merasa bingung ketika harus memesan tanpa berbicara. Namun, rasa canggung tersebut perlahan berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna. Selain itu, ia juga mengaku rasa saling menghargai dan menghormati terhadap penyandang disabilitas pun terasa.

“Awalnya canggung, tidak tahu harus bagaimana, tapi setelah mencoba, ternyata menyenangkan. Kita jadi lebih sadar bahwa komunikasi tidak harus selalu dengan suara," kata James.

Pengalaman yang sama juga dirasakan oleh Ansori. Pria asal Kabupaten Bandung itu mengaku bangga dengan para pekerja di Sunyi. Keterbatasan mereka tidak menghalangi untuk bekerja profesional dan pastinya ramah terhadap pelanggan. Disebutnya, kafe seperti ini mampu membuka pemahaman masyarakat terhadap kehidupan penyandang disabilitas. 

"Pengalaman yang didapat jauh lebih dari sekadar menikmati sajian, kita diajak memahami kehidupan teman-teman disabilitas. Ini bukan sekadar tempat ngopi," kata Ansori.

Baca Juga: PLN Sukses Jaga Keandalan Listrik Ajang Clash of Legends di GBK

Meski penyandang disabilitas, tapi para pekerjanya sudah mendapatkan pelatihan sesuai bidangnya. Mereka bekerja secara profesional dalam berbagai peran, mulai dari meracik minuman hingga melayani pelanggan. Kehadiran mereka tidak hanya menunjukkan kemampuan, tetapi juga menjadi bentuk perlawanan terhadap stigma yang selama ini melekat.

Di tengah hiruk pikuknya Jakarta yang belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas, kehadiran ruang seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan dapat dimulai dari hal sederhana. Memberi kesempatan bekerja bagi penyandang disabilitas sebagai bagian dari rasa kemanusiaan yang dimiliki pengusaha di tengah kelesuan ekonomi.

Tanpa suara tanpa kata-kata verbal, salah satu pegawai mengungkap rasa terima kasih atas kedatangan di kafe ini. Ucapan terima kasih tersebut disampaikan dengan cara meletakkan ujung jari tangan di dekat dagu atau bibir.

Gerakan itu kemudian diarahkan perlahan ke depan sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi kepada pengunjung. (man)


Berita Terkait


News Update