POSKOTA.CO.ID - Wacana penerapan sistem “war tiket haji” tengah menjadi sorotan publik dan memicu perdebatan luas di tengah masyarakat. Ide ini dinilai sebagai langkah inovatif untuk mengatasi persoalan klasik panjangnya antrean keberangkatan haji di Indonesia.
Selama bertahun-tahun, daftar tunggu haji terus membengkak hingga mencapai jutaan orang. Kondisi ini membuat banyak calon jemaah harus menunggu puluhan tahun sebelum akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci.
Pemerintah pun mulai mencari berbagai terobosan untuk mempercepat proses keberangkatan tanpa mengganggu sistem yang sudah berjalan. Salah satu opsi yang mencuat adalah skema “war tiket haji” yang menawarkan mekanisme berbeda dari sistem reguler.
Meski masih sebatas wacana, ide ini dinilai memiliki potensi besar, terutama jika dikaitkan dengan peluang peningkatan kuota haji Indonesia di masa mendatang. Namun, penerapannya tetap membutuhkan kajian matang agar tetap adil dan berkelanjutan.
Baca Juga: Ini Alasan Kepala SPPG dan Ahli Gizi Tak Bisa WFH di Kebijakan Baru BGN
Wacana War Tiket Haji Muncul di Tengah Lonjakan Antrean
Muncul wacana war tiket haji, seperti apa skemanya? Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkap skema baru berupa wacana “war tiket haji” yang digadang-gadang mampu mempercepat keberangkatan jemaah haji di tengah membeludaknya daftar tunggu.
Gagasan ini muncul sebagai respons atas arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta agar masa tunggu haji dapat dipersingkat secara signifikan.
Di sisi lain, program Vision 2030 dari Arab Saudi yang menargetkan peningkatan kapasitas jemaah dunia hingga 5 juta orang turut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mendapatkan tambahan kuota.
Potensi Lonjakan Kuota dan Tantangan Pembiayaan
Menurut Dahnil, jika target tersebut tercapai, kuota haji Indonesia berpotensi meningkat signifikan dari sekitar 221 ribu jemaah menjadi hampir 500 ribu jemaah. Namun, peningkatan ini juga membawa tantangan besar, khususnya dalam hal pembiayaan penyelenggaraan ibadah haji.
“Dengan jumlah jemaah saat ini saja, total biaya penyelenggaraan haji mencapai Rp18,2 triliun. Jika meningkat menjadi 500 ribu jemaah, angkanya bisa menembus lebih dari Rp40 triliun. Ini jelas tidak bisa sepenuhnya ditopang oleh keuangan haji yang ada saat ini,” ujar Dahnil usai menutup Rapat Kerja Nasional Konsolidasi Penyelenggaraan Haji 2026/1447 H di Asrama Haji Banten, Tangerang, Jumat 10 April 2026.
Baca Juga: Terjaring OTT Bupati Tulungagung Diboyong ke Jakarta, KPK Sita Uang Ratusan Juta
