Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID - Ada momen menarik di halaman tengah Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu kemarin, 8 April 2026.
Di tempat itulah Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan lebih kurang 800 pejabat mulai dari menteri hingga eselon I kementerian/lembaga, petinggi TNI, Polri, Kejaksaan Agung dan direksi BUMN melalui agenda Rapat Kerja (Raker) Pemerintah.
Pada taklimat 20 menit pertama, Prabowo mengingatkan potensi ancaman yang dihadapi banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Ancaman dimaksud di antaranya krisis pangan, energi, dan air.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Lahan Negara Untuk Rumah Rakyat
Kepada para birokrat diingatkan pula mengenai ancaman yang dapat muncul dari kemajuan teknologi. Disinggung mengenai ancaman berita bohong, konten-konten hasil manipulasi kecerdasan buatan (AI) seperti deepfake.
“Berita bohong alias hoaks memang sudah menjadi ancaman nyata.Seolah tiada hari tanpa hoaks di ruang publik,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
“Kadang kita sulit membedakan,mana yang asli, mana pula yang manipulasi, Mana konten yang valid, mana yang invalid,” tambah Yudi.
“Kesan yang mencuat, semua konten yang tersebar di dunia maya, benar adanya. Ini yang repot, jika berita bohong sudah dianggap benar. Klarifikasi untuk pembenaran, boleh jadi, malah dianggap yang bohong,” urai mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Mantap, BBM Bersubsidi Tidak Naik Nonsubsidi Lagi Dikaji
“Opini publik sudah terlanjur terbentuk dengan berita bohong yang tersebar meluas dalam helaan nafas. Acap klarifikasi muncul kemudian, setelah persepsi publik terbangun oleh hoaks,” jelas Heri.
“Tapi dengan klasifikasi dapat mengurangi kian maraknya hoaks, terlebih jika klarifikasi dilakukan oleh lembaga yang kredibel, disebarluaskan oleh media terpercaya, seperti media kita ini ya” kata Yudi.
“Wah promosi nih, ya?” sindir Heri.
“Bukan promosi, tapi lazimnya publik akan mencari kebenaran atas sebuah konten dengan merujuk kepada media terpercaya, yang sudah terverifikasi, dikelola secara profesional,” jelas Yudi.
“Betul, kroscek atas sebuah konten yang beredar, utamanya yang diragukan adalah perlu agar tidak terjebak kepada berita bohong,” kata Heri.
“Tidaklah elok, dengan serta menyebarkan berita yang menyebarkan kebencian, menyebarkan aib, penuh manipulasi, tanpa terlebih dahulu kroscek tentang kebenarannya,” harap mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Mengarungi Derasnya Ombak Kehidupan
“Terlebih terhadap konten manipulasi foto dan video dengan AI sehingga tercipta konten baru yang terlihat asli dan meyakinkan, baik wajah, suara maupun gestur tubuh seseorang, itulah yang disebut deepfake,” urai Heri.
“Ini tanggung jawab kita bersama, bagaimana bijak menggunakan media sosial, bijak pula memanfaatkan kecerdasan buatan untuk kebaikan, bukan keburukan,” urai mas Bro.
