“Tapi dengan klasifikasi dapat mengurangi kian maraknya hoaks, terlebih jika klarifikasi dilakukan oleh lembaga yang kredibel, disebarluaskan oleh media terpercaya, seperti media kita ini ya” kata Yudi.
“Wah promosi nih, ya?” sindir Heri.
“Bukan promosi, tapi lazimnya publik akan mencari kebenaran atas sebuah konten dengan merujuk kepada media terpercaya, yang sudah terverifikasi, dikelola secara profesional,” jelas Yudi.
“Betul, kroscek atas sebuah konten yang beredar, utamanya yang diragukan adalah perlu agar tidak terjebak kepada berita bohong,” kata Heri.
“Tidaklah elok, dengan serta menyebarkan berita yang menyebarkan kebencian, menyebarkan aib, penuh manipulasi, tanpa terlebih dahulu kroscek tentang kebenarannya,” harap mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Mengarungi Derasnya Ombak Kehidupan
“Terlebih terhadap konten manipulasi foto dan video dengan AI sehingga tercipta konten baru yang terlihat asli dan meyakinkan, baik wajah, suara maupun gestur tubuh seseorang, itulah yang disebut deepfake,” urai Heri.
“Ini tanggung jawab kita bersama, bagaimana bijak menggunakan media sosial, bijak pula memanfaatkan kecerdasan buatan untuk kebaikan, bukan keburukan,” urai mas Bro.
